TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Prestasi siswa SMAN 1 Tasikmalaya menembus panggung internasional.
Dalam rentang waktu kurang dari dua pekan, dua siswanya berhasil membawa pulang penghargaan dari dua kompetisi sains internasional berbeda.
Emyr Muhammad Hakim meraih Silver Medal International Applied Physics Olympiad (IAPhO) 2026, sedangkan Rossiana Nurul Amni menyabet Bronze Award International Life Science Olympiad (ILSO) 2026.
Baca Juga:Pengusaha Kota Tasikmalaya Masih Bingung Soal SLF, HIPMI Buka-Bukaan Soal iniPolemik Mukota KADIN Kota Tasikmalaya Tak Kunjung Usai, Pengurus Lama Bawa Isu Kewenangan ke Pusat
Dua prestasi tersebut menjadi catatan tersendiri bagi SMAN 1 Tasikmalaya yang tengah memasuki usia ke-70.
Bukan sekadar tambahan koleksi penghargaan, dua medali itu menunjukkan bahwa pembinaan siswa di sekolah tersebut mencoba bergerak melampaui batas ruang kelas.
IAPhO 2026 berlangsung pada 27-30 Agustus 2026 di Bandung dan diikuti 127 peserta dari 11 negara.
Sementara ILSO 2026 digelar 3-6 September 2026 di Denpasar, Bali, dengan peserta dari 13 negara.
Kepala SMAN 1 Tasikmalaya Dr. H. Yonandi, S.Si., M.T. menyebut capaian tersebut sebagai kado istimewa bagi sekolah.
“Ini adalah kado terindah di usia ke-70 sekolah kami. Dua medali di dua bidang berbeda menunjukkan bahwa pembinaan kami tidak terbatas pada satu disiplin ilmu,” ujarnya, Senin malam (21/9/2026).
Di IAPhO 2026, Emyr harus menghadapi kompetisi yang tidak hanya menguji kemampuan menyelesaikan soal fisika, tetapi juga kemampuan menerapkan konsep untuk membaca persoalan dunia nyata.
Baca Juga:Kasus Bayi Dibuang di Perum Mutiara Citra Belum Ada Tersangka, Polisi Terkendala Minim Saksi dan CCTVDefisit Rp27 Miliar Belum Aman, Pemkot Tasikmalaya Pangkas Belanja Rutin dan Mulai Seleksi Program
Siswa kelas 12-1 itu mengaku mulai tertarik pada fisika sejak kelas 10. Baginya, fisika bukan sekadar kumpulan rumus.
“Fisika selalu menarik bagi saya karena mengungkap cara kerja alam semesta dan memberikan kepuasan tersendiri saat berhasil memecahkan soal-soal rumit,” tuturnya.
Persiapan menghadapi kompetisi internasional dilakukan dengan membagi waktu antara pembinaan fisika dan pelajaran lainnya.
Emyr mengaku tidak ingin persiapan lomba membuat kewajiban akademiknya terbengkalai.
“Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik. Di tengah padatnya persiapan perlombaan, saya mencoba membagi waktu secara bijak antara belajar fisika dan mata pelajaran lainnya,” katanya.
Tantangan terbesar justru datang ketika harus mengelola rasa gugup. Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika menghadapi studi kasus fisika dengan persoalan yang menurutnya benar-benar baru.
