“Medali memang menjadi simbol, tetapi saya sangat bangga ketika bisa membawa nama almamater di kancah internasional,” tandasnya.
Menurutnya, dukungan sekolah turut memberi ruang bagi siswa untuk berkembang. Program 3K (Karakter, Kabisa, Katarima) dan One Student, One Achievement menjadi bagian dari pembinaan yang dijalaninya.
“Karakter menanamkan sikap Gapura Pancawaluya. Kabisa memotivasi saya lewat One Student One Achievement. Katarima menjadi motivasi besar untuk terus berprestasi,” tukasnya.
Baca Juga:Pengusaha Kota Tasikmalaya Masih Bingung Soal SLF, HIPMI Buka-Bukaan Soal iniPolemik Mukota KADIN Kota Tasikmalaya Tak Kunjung Usai, Pengurus Lama Bawa Isu Kewenangan ke Pusat
Dua medali internasional dalam rentang waktu berdekatan akhirnya menjadi semacam pengingat bahwa prestasi siswa tidak selalu lahir dari sekolah yang berada di pusat kompetisi.
Dari Tasikmalaya, nama sekolah dan daerah ikut dibawa ke panggung sains dunia.
Bagi SMAN 1 Tasikmalaya, usia 70 tahun tampaknya bukan sekadar angka di spanduk perayaan.
Ada pekerjaan rumah yang lebih penting: memastikan semakin banyak siswa menemukan panggungnya sendiri. (rezza rizaldi)
