“Alhamdulillah, bisa mendapatkan pengalaman yang menjadi pembelajaran serta rasa semangat untuk terus berjuang,” terangnya.
Program pembinaan, drill soal, hingga peminjaman buku dari perpustakaan turut membantu persiapannya. Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting, terutama doa dari sang ibu.
Emyr memberikan pesan kepada teman-temannya agar tidak takut mencoba.
“Prosesnya memang penuh dengan tantangan, tapi percayalah tiap usaha keras tidak akan mengkhianati hasil. Terus melangkah, jangan ragu dengan potensi diri sendiri, dan nikmati jalannya,” tambahnya.
Baca Juga:Pengusaha Kota Tasikmalaya Masih Bingung Soal SLF, HIPMI Buka-Bukaan Soal iniPolemik Mukota KADIN Kota Tasikmalaya Tak Kunjung Usai, Pengurus Lama Bawa Isu Kewenangan ke Pusat
Bagi Emyr, kegagalan bukan akhir perjalanan. Ia memegang prinsip, “Gagal itu bukan vonis, tetapi data.”
Orang tuanya, Rizky Komalasari dan dr. Dendi Djuanda, melihat perkembangan Emyr terutama dalam memahami jurnal dan studi kasus di luar materi sekolah.
Menurut mereka, IAPhO tidak hanya menguji kemampuan kognitif, tetapi juga pemahaman terhadap fenomena alam dan kemampuan merumuskan inovasi melalui konsep fisika.
Sementara itu, Rossiana Nurul Amni menghadapi tantangan berbeda melalui ILSO 2026. Kompetisi tersebut mencakup bidang biologi, bioteknologi, genetika molekuler, dan ekologi.
Ketertarikan Rossiana terhadap kompetisi akademik sebenarnya sudah tumbuh sejak sekolah dasar. Saat SMA, minat tersebut diarahkan lebih serius pada Olimpiade Biologi.
“Saya sedari SD sudah tertarik dalam bidang perlombaan olimpiade akademik maupun non-akademik. Hal itu membuat saya mengasah kemampuan dan terus mengembangkan potensi hingga di SMA saya serius mengikuti Olimpiade Biologi,” katanya.
Persiapannya meliputi pendalaman materi, mempelajari subtes, hingga mengerjakan latihan soal berstandar nasional dan internasional.
Baca Juga:Kasus Bayi Dibuang di Perum Mutiara Citra Belum Ada Tersangka, Polisi Terkendala Minim Saksi dan CCTVDefisit Rp27 Miliar Belum Aman, Pemkot Tasikmalaya Pangkas Belanja Rutin dan Mulai Seleksi Program
Tantangannya bukan hanya soal materi, tetapi juga membagi waktu antara pembelajaran sekolah, lomba lain, bimbingan, dan organisasi.
“Saya merasa sangat ekstra dalam persiapan menuju babak final ILSO,” tambahnya.
Di tengah persaingan peserta dari berbagai negara, Rossiana akhirnya membawa pulang Bronze Award.
Ia menyebut pengalaman bertemu peserta dari negara lain menjadi bagian berharga dari kompetisi.
“Kami bertukar informasi mengenai kebiasaan dan cara belajar, dan kami mempelajari hal-hal mengenai biologi bersama,” jelasnya.
Rossiana juga mengaku bangga karena dapat membawa nama SMAN 1 Tasikmalaya ke kompetisi internasional.
