Jalan Panjang Nurul Awalin!

Nurul awalin
Ketua DPD Golkar Kota Tasikmalaya Nurul Awalin saat mengadakan acara bersama para pader di kediaman pribadinya. (ist)
0 Komentar

Pernah menjadi kepala MA Al-Ikhlas Padakembang. Kepala MTs Al-Khoeriyah Bantarsari. Dosen STIE Cipasung. Ketua Yayasan Ponpes Al-Khoeriyah Bantarsari.

Sehingga perjalanan hidupnya seperti melewati beberapa ruangan: kelas, pesantren, organisasi, kemudian parlemen. Dan mungkin itu pula yang membuat cara pandangnya terhadap politik tidak berhenti pada soal kursi.

Dalam profil resminya, Nurul menuliskan motivasi hidup yang cukup sederhana: hidup sementara, jangan disia-siakan, berbuat yang terbaik bagi diri, keluarga dan masyarakat, serta jangan berhenti menyuarakan aspirasi masyarakat.

Baca Juga:Soal Guru Terseret Kasus Unsoed, Kepala Sekolah Sebut Tak Ada Penggeledahan, WY Berstatus SaksiDosen Unsil Kembangkan Metode Menulis Bahasa Inggris untuk Siswa Sekolah Dasar di SDN 01 Purbaratu

Kalimat seperti itu mudah ditulis. Yang sulit adalah membuktikannya. Sebab politik memang sering punya masalah dengan kalimat-kalimat indah. Kalimatnya bisa pendek. Masa baktinya bisa panjang. Tetapi ukuran akhirnya tetap sama: apa yang dikerjakan setelah mendapat amanah.

Usai musda. Nurul mengatakan dirinya mendapat dorongan dari mayoritas Pengurus Kecamatan serta sejumlah organisasi keluarga besar Golkar. Ia menyebut pencalonannya bukan semata-mata ambisi pribadi, melainkan respons terhadap dorongan kader dan struktur partai.

Ia juga mengatakan jabatan ketua seharusnya menjadi alat untuk membesarkan partai, bukan tujuan pribadi. Di situlah politik menjadi menarik. Karena kursi ketua partai itu aneh.

Sebelum didapat, ia terasa seperti tujuan. Setelah didapat, ia berubah menjadi beban.Dan setelah beberapa tahun menjabat, orang baru sadar: kursi itu ternyata bukan kursi. Ia meja kerja.

Nurul kini berada di titik itu. Dari kandidat yang sebelumnya berhadapan dengan nama lain, kini namanya menjadi satu-satunya yang terbuka di arena setelah Iwan Saputra mundur. Namun penetapan formal tetap menjadi bagian dari proses Musda.

Jadi, kalau malam ini pohon beringin Kota Tasikmalaya mencari siapa yang akan menaungi ranting-rantingnya untuk periode 2026–2031, nama Nurul Awalin sedang berada paling depan.

Tetapi menjadi calon adalah satu perkara. Menjadi ketua adalah perkara berikutnya.Dan menjadi ketua yang mampu membuat ranting-ranting tetap hidup adalah perkara yang jauh lebih panjang.

Baca Juga:Soal Gaji PPPK Berpotensi Dialihkan ke APBN, Pemkot Tasikmalaya Tunggu KepastianDewas RSUD: Double Job, Double Income!

Sebab pohon tidak dinilai dari siapa yang duduk di bawahnya. Pohon dinilai dari apakah setelah lima tahun, daunnya bertambah atau justru tinggal nama di papan. (red)

0 Komentar