Selain itu, pengunjung disuguhi pameran lebih dari 5.000 payung tradisi dan kreasi dari berbagai daerah.
Rangkaian kegiatan juga diisi pameran lukisan internasional anak dan remaja, peluncuran buku literasi Catra Padi, pasar kuliner, serta pameran UMKM.
FESPIN digagas Heru Mataya melalui lembaga kebudayaan yang didirikannya, Mataya Art & Heritage.
Baca Juga:Kunci Rusak, Ahli Gizi Terjebak di Ruangan Kantor SPPG Cigantang TasikmalayaKejar Swasti Saba Wiwerda, Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Kota Tasikmalaya Masih Jadi PR Utama
Festival tahunan tersebut diprakarsai melalui kerja sama dengan Kementerian Pariwisata, khususnya Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya.
FESPIN XIII 2026 dibuka oleh Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani.
Dari Kota Tasikmalaya, rombongan yang hadir antara lain Ketua Dekranasda Elvira Kamarrow Putri, Kepala BJB Tasikmalaya Fina Petrina, Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Deddy Mulyana, serta Kepala Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Sopian Zaenal Muttaqien.
Kehadiran Kota Tasikmalaya di tengah festival yang mempertemukan kriya dari berbagai daerah dan negara itu menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa produk lokal tak harus kehilangan identitas untuk bisa naik kelas.
Justru dari Payung Geulis, bordir, tarumpah, hingga kriya mendong, Kota Tasikmalaya punya modal budaya yang bisa dibawa lebih jauh ke pasar nasional bahkan global. (rezza rizaldi)
