Selain inovasi produk, pemerintah juga mendorong penguatan pemasaran. Produk unggulan UMKM Ciamis, termasuk galendo, dipromosikan melalui bazar tingkat kabupaten maupun provinsi, galeri Dekranasda Ciamis di setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), pusat keramaian dan pusat oleh-oleh.
Pelaku UMKM juga mendapatkan fasilitasi legalitas serta pelatihan pemasaran digital.
“Kita untuk perajin galendo dan UMKM produk lainya sudah difasilitasi pelatihan legalitas, kemasan dan digital marketing. Semua itu, untuk UMKM naik kelas, karena memiliki daya saing dari makanan tradisional,“ ujarnya.
Saat ini, jumlah perajin galendo di Kabupaten Ciamis sekitar 15 produsen. Mereka tersebar di Kecamatan Ciamis, Cijeungjing, Baregbeg, Banjarsari dan Cidolog.
Baca Juga:Demokrat Kabupaten Tasikmalaya Gebrak Sukarame, Gelar Lomba Rakyat Semarakkan KemerdekaanSembilan Atlet Pasundan Muaythai Academy Tasikmalaya Bawa Pulang 9 Medali dari Kejurnas di Kota Bekasi
Namun, keberlangsungan usaha galendo menghadapi tantangan serius. Jumlah perajin terus menyusut karena tidak banyak generasi penerus yang bersedia melanjutkan usaha tersebut.
Kondisi itu dirasakan Fauzie Mochamad Hidayat (30), perajin galendo yang masih bertahan di Lingkungan Burujul RT 4/RW 5 Kelurahan Cigembor, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis.
Fauzie meneruskan usaha milik mertuanya, Nana, yang mulai memproduksi galendo di lingkungan tersebut sejak 1995. Ia kemudian mengembangkan usahanya dengan merek Moro Moro Galendo dan mulai memasarkan produknya secara daring.
Menurut Fauzie, jumlah perajin galendo di Lingkungan Burujul mengalami penurunan drastis. Dari sebelumnya 21 perajin, kini hanya tersisa dua perajin yang masih bertahan.
“Saya saja melanjutkan usaha galendo dari mertua yaitu bapak Nana yang dahulu mengawali usaha membuat galendo di sini sejak tahun 1995. Karena memang kebanyakan tidak ada penerusnya untuk minat mengelola usaha galendo, buktinya dari 21 perajin kini sisa dua perajin saja,” katanya Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, minimnya regenerasi menjadi salah satu faktor penyusutan jumlah perajin. Selain persoalan penerus, proses produksi galendo juga membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup besar.
Produksi dimulai sejak subuh dengan membuka daging kelapa, kemudian menggilingnya hingga menjadi santan. Santan tersebut selanjutnya harus dimasak dan terus diaduk selama sekitar tiga jam agar matang merata dan tidak gosong. Perajin juga harus mengatur api serta memasukkan air kelapa sebagai pemanis alami.
