Leao juga menyadari bahwa perjalanan tujuh tahunnya bersama Milan telah meninggalkan jejak tersendiri.
“Saya pasti akan menjadi bagian dari sejarah klub karena saya tahu apa yang telah saya lakukan di sini. Saya akan membawa semua orang yang telah membantu saya di dalam hati. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih,” ungkapnya.
Ketika ditanya mengenai alasan berakhirnya perjalanan bersama Milan, Leao memberikan jawaban yang cukup emosional.
Baca Juga:Amorim Beri Sinyal Rafael Leao Tinggalkan AC Milan: “Ada Saatnya Lebih Baik Pergi” Prediksi AC Milan vs Venezia: Tim Tamu Cuma Pernah Menang Sekali pada 1942
“Itulah hidup. Kami belajar, kemudian kami mengucapkan selamat tinggal. Tetapi ini bukan cinta yang berakhir. Cinta saya kepada Milan tidak akan pernah berakhir,” tegasnya.
Leao memastikan dirinya akan tetap mengikuti perkembangan Rossoneri meski dari kejauhan.
“Saya akan selalu melihat Milan dari jauh,” tuturnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kepindahannya ke Galatasaray bukan berarti hubungan emosionalnya dengan Milan ikut berakhir.
Selama tujuh tahun di San Siro, Leao tentu memiliki banyak kenangan. Akan tetapi, ada satu hal yang paling melekat dalam ingatannya, yakni keberhasilan memenangkan trofi bersama Rossoneri.
“Ketika Anda memenangkan trofi, itulah hal-hal yang paling melekat. Kalian tahu trofi mana yang saya maksud. Saya akan mengingatnya sampai akhir,” ujar Leao.
Salah satu pencapaian terbesar Leao bersama Milan adalah ketika membantu klub meraih Scudetto.
Ia berkembang menjadi salah satu pemain paling penting di skuad Rossoneri dan menjadi idola bagi sebagian besar pendukung klub.
Baca Juga:Ludi Pastikan Como Tunda Rekrut Samuele Ricci: Belum Ada yang KonkretJadwal Como di Liga Champions: Jamu PSG dan Manchester United di Kandang, Hadapi Barcelona di Laga Tandang
Leao juga berbicara mengenai era baru AC Milan di bawah Ruben Amorim. Meski kebersamaan mereka hanya berlangsung singkat, Leao memberikan penilaian positif terhadap pelatih asal Portugal tersebut.
“Ini adalah momen ketika Anda harus mengambil keputusan dan membuat pilihan lain. Milan tetaplah Milan. Tim ini memiliki level yang sangat tinggi dan pelatih yang hebat,” kata Leao.
Ia mengaku menyukai gaya sepak bola yang diterapkan Amorim.
“Kami memang tidak bersama dalam waktu lama, tetapi Amorim sangat bagus. Dia tegas dan bisa membantu Milan mencapai hal-hal penting. Dia memainkan sepak bola yang saya sukai. Saya menyukai sepak bola Amorim,” lanjutnya.
