Aisyiyah Kabupaten Tasikmalaya Perkuat Peran Keluarga dalam Rehabilitasi Anak Disabilitas

Aisyiyah
Aisyiyah Kabupaten Tasikmalaya menyelenggarakan pelatihan terapi rehabilitasi berbasis masyarakat (RBM) dengan pendekatan intervensi berbasis keluarga bagi caregiver disabilitas. (Istimewa)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Penguatan layanan bagi penyandang disabilitas tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif keluarga dan pendamping.

Karena itu, kapasitas caregiver terus diperkuat agar mampu memberikan pendampingan dan pemantauan perkembangan anak secara berkelanjutan.

Upaya tersebut dilakukan ’Aisyiyah Kabupaten Tasikmalaya melalui pelatihan terapi rehabilitasi berbasis masyarakat (RBM) dengan pendekatan intervensi berbasis keluarga bagi caregiver disabilitas. Kegiatan berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Singaparna, Kamis (28/8/2026).

Baca Juga:Demokrat Kabupaten Tasikmalaya Gebrak Sukarame, Gelar Lomba Rakyat Semarakkan KemerdekaanSembilan Atlet Pasundan Muaythai Academy Tasikmalaya Bawa Pulang 9 Medali dari Kejurnas di Kota Bekasi

Pelatihan menghadirkan akademisi Universitas ’Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Veni Fatmawati, SSt.Ft., Ftr., M.Fis., serta narasumber dari RS KHZ Mustofa, dr. Taufiq Rahman Hakim.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan program inklusi ’Aisyiyah Kabupaten Tasikmalaya, khususnya dalam meningkatkan pemahaman keluarga dan caregiver mengenai penanganan, pendampingan, serta pemantauan perkembangan penyandang disabilitas.

Koordinator Program Inklusi ’Aisyiyah Kabupaten Tasikmalaya, Rosmini, mengatakan pelatihan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan caregiver dalam memberikan intervensi rehabilitasi yang dapat dilakukan dengan melibatkan keluarga.

“Keluarga memiliki posisi penting dalam proses pendampingan karena sebagian besar aktivitas rehabilitasi dan pemantauan perkembangan anak berlangsung dalam lingkungan keluarga,” ujarnya saat di konfirmasi, Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, terapi rehabilitasi berbasis masyarakat merupakan bentuk intervensi berbasis keluarga yang menempatkan caregiver sebagai bagian penting dalam proses rehabilitasi. Keluarga tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memiliki peran dalam menerapkan pendampingan sesuai kebutuhan anak.

“Dengan pembekalan yang memadai, keluarga diharapkan mampu memberikan pendampingan secara lebih tepat dan berkelanjutan sesuai kebutuhan anak dengan disabilitas,” katanya.

Sementara itu, Veni Fatmawati menjelaskan materi pelatihan membahas program inklusi melalui fisioterapi disabilitas dalam kerangka rehabilitasi berbasis masyarakat.

Baca Juga:Gelorakan Gerakan Langit Biru, Partai Demokrat Kabupaten Tasikmalaya Bersihkan Jalan dan Tanam Puluhan PohonPangdam III/Siliwangi Terima Kunjungan Paskibraka Jawa Barat 2026

Dalam pendekatan tersebut, terdapat tiga unsur penting yang harus saling bersinergi untuk mendukung perkembangan dan pemenuhan kebutuhan anak dengan disabilitas. Ketiganya adalah fisioterapis, orang tua, dan pendamping.

“Dalam mendukung perkembangan dan kebutuhan anak dengan disabilitas, ada tiga unsur penting, yaitu fisioterapis, orang tua, dan pendamping,” katanya.

Veni menekankan, pendampingan terhadap anak dengan disabilitas tidak dapat dilakukan secara sporadis. Perkembangan anak harus diperhatikan dan dipantau secara berkelanjutan sehingga setiap perubahan dapat diketahui dan menjadi dasar untuk menentukan langkah pendampingan berikutnya.

0 Komentar