Pemantauan rutin juga diperlukan untuk mengetahui sejauh mana intervensi yang diberikan memberikan perkembangan bagi anak. Karena itu, pencatatan menjadi bagian penting dalam rehabilitasi berbasis masyarakat.
Salah satu instrumen yang diperkenalkan dalam pelatihan adalah logbook atau buku catatan pemantauan perkembangan anak.
Melalui logbook, perkembangan anak dapat dicatat secara berkala. Catatan tersebut kemudian dapat menjadi bahan bagi keluarga, pendamping, maupun tenaga fisioterapi untuk melihat perkembangan yang telah berlangsung sekaligus melakukan evaluasi.
Baca Juga:Demokrat Kabupaten Tasikmalaya Gebrak Sukarame, Gelar Lomba Rakyat Semarakkan KemerdekaanSembilan Atlet Pasundan Muaythai Academy Tasikmalaya Bawa Pulang 9 Medali dari Kejurnas di Kota Bekasi
“Perkembangan anak perlu diperhatikan dan dipantau secara berkelanjutan. Salah satu instrumen yang digunakan adalah logbook untuk pemantauan perkembangan anak,” ujarnya.
Menurutnya, pencatatan perkembangan membuat proses evaluasi lebih terukur karena kondisi anak terdokumentasi dari waktu ke waktu. Pendamping tidak hanya mengandalkan pengamatan sesaat, tetapi memiliki catatan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi intervensi dan menentukan kebutuhan pendampingan selanjutnya.
Konsep rehabilitasi berbasis masyarakat juga menekankan pentingnya keterlibatan lingkungan terdekat penyandang disabilitas. Keluarga menjadi salah satu unsur utama karena memiliki interaksi paling intens dengan anak dalam aktivitas sehari-hari.
Melalui pelatihan tersebut, caregiver diharapkan memahami bahwa pendampingan anak dengan disabilitas membutuhkan proses yang konsisten dan berkelanjutan.
“Intervensi tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau fisioterapis, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif orang tua dan pendamping,” bebernya.
Ia menjelaskan, fisioterapis berperan memberikan arahan profesional terkait kebutuhan terapi dan perkembangan kemampuan fisik anak. Sementara orang tua dan pendamping berperan menerapkan serta memantau pendampingan dalam aktivitas sehari-hari sesuai arahan yang diberikan.
Pola kolaborasi tersebut diharapkan membuat layanan rehabilitasi lebih dekat dengan anak dan keluarga. Pemantauan berkala juga memungkinkan evaluasi dilakukan lebih cepat apabila ditemukan perubahan kondisi atau kebutuhan baru dalam perkembangan anak.
Baca Juga:Gelorakan Gerakan Langit Biru, Partai Demokrat Kabupaten Tasikmalaya Bersihkan Jalan dan Tanam Puluhan PohonPangdam III/Siliwangi Terima Kunjungan Paskibraka Jawa Barat 2026
Dengan penguatan kapasitas caregiver, rehabilitasi berbasis masyarakat diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
“Keluarga pun memiliki bekal untuk memahami kebutuhan anak serta melakukan pemantauan perkembangan secara lebih terstruktur,” pungkasnya. (obi)
