Pelatihan berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya belajar membuat hiasan agar rapi dan enak dipandang, tetapi juga dikenalkan dengan konsep membangun citra merek (branding) yang sesuai dengan selera pasar anak muda.
Hasilnya cukup menggembirakan. Seluruh kelompok peserta berhasil mengubah botol kaca bekas menjadi prototipe vas bunga estetik yang dinilai layak untuk dikembangkan sebagai produk siap jual.
Dengan kata lain, yang semula berpotensi memenuhi tempat sampah justru diberi kesempatan kedua untuk masuk ke etalase.
Baca Juga:Anak Keracunan, Sertifikasi MBG Jangan Sekadar FormalitasRekayasa Lalu Lintas Dadaha Tasikmalaya! Keramaian Disebar, Konflik Jangan Ikut Melebar
Pihak SMK Satya Bhakti Tasikmalaya pun memberikan apresiasi terhadap kolaborasi tersebut.
Selain menyediakan tempat pelatihan dan membantu mengumpulkan botol kaca dari lingkungan sekolah, pihak sekolah berkomitmen melanjutkan semangat eco-preneurship melalui materi kerajinan kreatif dalam pembelajaran kewirausahaan siswa.
“Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah ini, kami berharap benih-benih wirausahawan muda yang inovatif dan berwawasan lingkungan akan terus tumbuh subur di Kota Tasikmalaya,” kata Luthfi.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mayasari Bakti, Ir. Mia Sumiarsih, M.M., mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk pengabdian masyarakat dosen Program Studi Kewirausahaan.
Menurut dia, keterampilan mengolah barang bekas menjadi produk bernilai jual diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh para siswa.
Selain membuka peluang ekonomi, upaya tersebut juga menjadi langkah sederhana untuk mengurangi volume sampah di lingkungan sekolah.
“Harapannya, keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan ini dapat diimplementasikan dalam pengelolaan barang-barang bekas menjadi barang yang memiliki nilai jual, sehingga dapat membantu mengurangi volume sampah di sekitar lingkungan sekolah,” harap Mia. (rls/rezza rizaldi)
