Di sinilah kisah Abang Aqsha terasa menarik. Bukan karena ia masih berusia empat tahun, tetapi karena pilihannya seolah menyentil kebiasaan zaman: ketika layar ponsel semakin besar mengambil ruang dalam kehidupan anak, masih ada anak yang memilih memegang wayang dan belajar menjadi dalang.
Pelestarian budaya ternyata tak selalu membutuhkan panggung besar, festival megah, atau seremoni panjang. Ia bisa bermula dari seorang anak kecil yang jatuh cinta kepada wayang, sebuah panggung sederhana di kampung, serta keluarga dan lingkungan yang memberi ruang bagi kecintaan tersebut untuk tumbuh.
LSMI HMI Cabang Tasikmalaya berharap muncul semakin banyak “Abang Aqsha” lainnya di berbagai daerah. Generasi yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadikan teknologi sebagai alat untuk merawat identitas dan kebudayaan.
Baca Juga:Parkir Digital Wajib Mendongkrak PAD Kota Tasikmalaya, Viman Minta Sistem Tak Sekadar DiluncurkanPolisi di Tasikmalaya Gencarkan Patroli hingga Subuh, Geng Motor Jadi Incaran Utama
Sebab, budaya tidak akan bertahan hanya karena masa lalu terus dikenang. Budaya akan tetap hidup ketika ada generasi hari ini yang mau mengenal, memainkan, merawat, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. (rezza rizaldi)
