Pemain sayap memiliki peran penting untuk menjaga lebar lapangan. Mereka berdiri dekat garis tepi untuk menarik pemain bertahan lawan dan membuka ruang bagi gelandang maupun penyerang di area tengah.
Xavi juga mengandalkan konsep third man, yakni rangkaian umpan yang membuat pemain ketiga mendapatkan ruang setelah dua pemain sebelumnya menggerakkan pertahanan lawan.
Gelandang kreatif kemudian dapat memanfaatkan ruang di antara lini tengah dan lini belakang lawan, terutama area half-space.
Baca Juga:Inter Kebut Transfer Curtis Jones Usai Kirim Frattesi ke Lazio Siapa Rodrigo Mora? Calon Pemain Baru AS Roma yang Dijuluki Permata Portugal
Ketika kehilangan bola, pemain Xavi dituntut segera melakukan tekanan. Prinsipnya adalah merebut kembali penguasaan bola sebelum lawan mampu membangun serangan balik.
Garis pertahanan tinggi juga menjadi bagian penting. Bek tengah berada jauh dari gawang sendiri untuk mempersempit ruang yang bisa dimanfaatkan lawan.
Apalagi hubungan antara Xavi dan Total Football tidak muncul secara tiba-tiba.
Total Football dikembangkan Rinus Michels dan mencapai bentuk ikonik bersama Timnas Belanda pada era 1970-an.
Johan Cruyff menjadi pemain paling terkenal dari sistem tersebut sekaligus sosok yang kemudian membawa prinsip-prinsipnya ke Barcelona.
Ketika menjadi pelatih Barcelona, Cruyff membangun fondasi permainan yang kemudian berkembang menjadi identitas klub. Akademi La Masia ikut menjadi bagian penting dari sistem tersebut.
Filosofi itu kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya, termasuk Pep Guardiola.
Guardiola melakukan sejumlah modifikasi dan memperkenalkan pendekatan permainan berbasis penguasaan bola yang kemudian dikenal luas sebagai Tiki-Taka. Xavi menjadi salah satu pemain terpenting dalam sistem tersebut.
Baca Juga:Direktur Como: Sepak Bola Modern Kunci Kebangkitan Klub ItaliaRavezzani Akui AC Milan dalam Bahaya: “Tak Ada Seorang Pun yang Mampu Menelepon Maignan dan Rabiot”
Kini, Xavi memiliki kesempatan untuk membawa hasil evolusi filosofi Barcelona tersebut ke tempat asal salah satu akarnya.
Ada banyak kesamaan antara konsep Total Football dan pendekatan Xavi. Keduanya menekankan penguasaan ruang, fleksibilitas posisi, tekanan tinggi, serta keterlibatan seluruh pemain dalam fase menyerang maupun bertahan.
Dalam Total Football, pemain dituntut mampu mengambil alih posisi rekan setim ketika situasi mengharuskannya. Xavi menerapkan prinsip serupa, tetapi dengan struktur posisi yang lebih terorganisasi.
Perbedaannya terletak pada tingkat disiplin posisi. Sepak bola Belanda era 1970-an terkenal sangat cair.
Sementara Xavi lebih mengutamakan struktur geometris agar perpindahan posisi tidak membuat tim kehilangan keseimbangan.
