TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Masa remaja bukan sekadar fase mencari jati diri.
Di balik rasa ingin tahu dan semangat mencoba hal baru, ada sederet risiko yang perlu dikenali sejak dini, mulai dari tekanan teman sebaya, bullying, kekerasan, hingga persoalan keamanan di ruang digital.
Hal tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (Umtas) Kelompok Cibeuti-A saat menggelar edukasi remaja di MTs Al-Ma’rufi, RW 03, Kelurahan Cibeuti, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Selasa (11/8/2026).
Baca Juga:Warga Cisarua Tasikmalaya Harus Tempuh 20 Kilometer untuk Beli BBM!Gudang Arak Bali di Cibeureum Kota Tasikmalaya Digerebek, 500 Liter Miras Oplosan Disita Polisi
Mengusung tema Be Aware, Be Wise, Be Safe: Mengenal Diri dan Mencegah Risiko di Masa Remaja, kegiatan tersebut diikuti 67 siswa-siswi MTs Al-Ma’rufi.
Selain itu, hadir pula 10 guru dan tamu undangan serta 20 mahasiswa KKN UMT Kelompok Cibeuti-A.
Psikolog Neni Sholihat S.Psi., M.Psi.,Psikolog menjadi pemateri dalam kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 10.00 WIB tersebut.
Materi yang disampaikan cukup dekat dengan keseharian remaja.
“Kenali diri sendiri, kelola emosi, membangun pergaulan sehat, menghadapi peer pressure, keamanan digital, cyberbullying, bullying dan kekerasan, hingga kesehatan fisik, reproduksi, dan mental,” ujarnya.
Pesannya sederhana, tetapi penting: sebelum mengambil keputusan, remaja perlu memastikan pilihannya aman, sehat, dan sesuai dengan nilai positif yang diyakini.
Dalam sesi tanya jawab, siswa juga aktif menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Salah satunya datang dari Mutia yang menanyakan cara mengendalikan mood agar tetap fokus belajar.
Peserta diarahkan untuk memberikan jeda ketika mulai kehilangan fokus.
Selain itu, melakukan aktivitas yang disukai, mengonsumsi camilan, maupun menciptakan suasana yang lebih nyaman dapat menjadi bagian dari strategi sederhana untuk mengembalikan konsentrasi.
Baca Juga:Kampung Bebas Narkoba Polres Tasikmalaya Kota Raih Juara 3 Mabes Polri, Warga Jadi Garda DepanJenazah Lansia di Kota Tasikmalaya Ditemukan saat Beberapa Hari Tak Dijenguk Keluarganya
Pertanyaan lain disampaikan Ratu terkait cara menghadapi orang yang melakukan bullying.
Dalam materi tersebut, siswa didorong untuk berani menyampaikan ketidaksukaan terhadap perlakuan yang diterimanya secara tegas.
Jika tindakan bullying terus terjadi, korban dianjurkan melapor kepada orang dewasa yang dipercaya, seperti guru atau orang tua.
Sebab, diam bukan selalu berarti kuat. Dalam kasus bullying, keberanian untuk bercerita justru bisa menjadi langkah awal untuk menghentikan persoalan sebelum semakin panjang.
