Menurut dia, perhatian kini perlu diarahkan pada berbagai jalur penularan seksual, termasuk LSL, ibu rumah tangga yang tertular dari pasangan, serta kelompok dengan kondisi kesehatan tertentu.
Data pemeriksaan 2026 memperlihatkan, selain LSL, KPAD juga melakukan pengetesan terhadap ibu hamil, pasien tuberkulosis (TB), pasien infeksi menular seksual (IMS), waria, pekerja seks perempuan (WPS), dan pengguna narkoba suntik.
Dari 243 pasien IMS yang dites, ditemukan 12 kasus HIV positif atau 4,94 persen. Pada pasien TB, ditemukan 12 kasus dari 839 pemeriksaan atau 1,43 persen.
Baca Juga:Setoran Tidak Sesuai Target, Vendor Parkir di Kota Tasikmalaya Nunggak RetribusiAPBD Kota Tasik: Kebanyakan Lemak!
Sementara dari 5.487 ibu hamil yang menjalani tes, ditemukan enam kasus HIV positif atau 0,11 persen. Pada kelompok waria, satu kasus positif ditemukan dari 89 tes atau 1,12 persen. Sedangkan dari 207 WPS yang diperiksa, ditemukan satu kasus positif atau 0,48 persen.
Pengguna narkoba suntik yang dites sebanyak 20 orang dan seluruhnya tercatat negatif. Tingginya temuan pada kelompok LSL kemudian dikaitkan Tarlan dengan fenomena yang belakangan populer disebut “boti”, istilah yang dalam percakapan sehari-hari kerap digunakan untuk menyebut laki-laki yang berpenampilan atau berperan feminin.
Tarlan menyebut fenomena tersebut berkaitan dengan kategori transgender dan perilaku seksual laki-laki dengan laki-laki. Namun, istilah “boti” sendiri bukan kategori epidemiologis dalam pencatatan kasus HIV KPAD.
Karena itu, angka 40 kasus positif pada LSL tidak dapat begitu saja dibaca sebagai “40 kasus akibat fenomena boti”. Data KPAD itu mencatatnya berdasarkan kelompok LSL yang menjalani tes HIV. Dari 808 tes pada kelompok tersebut, 40 dinyatakan HIV positif.
Tarlan mengatakan pencegahan perlu dilakukan melalui peningkatan kesadaran dan edukasi mengenai perilaku seksual berisiko.
“Bagaimana tumbuh kesadaran. Intinya itu tidak seks bebas,” bebernya.
KPAD, lanjut Tarlan, juga tengah melakukan edukasi ke sekolah-sekolah tingkat SMP, SMA, dan SMK.
Baca Juga:10 Syarat Menuju Kursi KADIN!Pengelolaan Parkir di Kota Tasikmalaya Langganan Gagal! Inovasi Silih Berganti, Target Tak Pernah Tercapai
Edukasi tersebut disebut menjadi salah satu upaya pencegahan sejak dini. Tarlan juga menyinggung faktor ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Menurutnya, meningkatnya kemampuan ekonomi membuat mobilitas anak muda semakin tinggi dan ruang pergaulan semakin terbuka. Ia mencontohkan aktivitas berkumpul di kafe hingga mobilitas menggunakan kendaraan pribadi sebagai bagian dari perubahan pola pergaulan masyarakat.
