Dengan kondisi tersebut, Yamin berharap pemerintah memberikan perhatian kepada para petani yang mengalami gagal panen. Salah satu bantuan yang paling dibutuhkan saat ini adalah penyediaan bibit unggul untuk menghadapi musim tanam berikutnya.
“Bibit unggul yang kami harapkan saat ini untuk masa tanam nanti,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan petani lainnya, Marhu (42). Ia mengatakan lebih dari 250 bata tanaman padi miliknya juga mengalami puso akibat kekeringan.
“Lumayan luas. Tanam sekarang ini betul-betul rugi,” ujar Marhu.
Baca Juga:Beringin Tasikmalaya Mencari Pewaris!Jejak Panjang Nandang Suryana!
Ia mengatakan, saat ini tanaman padi di lahannya sudah dalam kondisi yang sangat sulit untuk diselamatkan. Bahkan, apabila pasokan air kembali tersedia, tanaman yang telah mengering tersebut dinilai tidak lagi dapat dipulihkan.
Marhu berharap pemerintah dapat memberikan bantuan kepada petani yang terdampak, terutama berupa bibit untuk musim tanam selanjutnya.
“Minimal ada bantuan bibit dari pemerintah. Kami betul-betul rugi. Kalau saat ini ada air juga percuma, tanamannya sudah kering,” katanya.
Para petani berharap persoalan irigasi dapat segera mendapat perhatian dan ditangani agar kejadian serupa tidak terus berulang. Selain memastikan ketersediaan air saat kemarau, bantuan bibit juga dinilai penting untuk membantu petani kembali memulai usaha tani setelah mengalami gagal panen.
Bagi petani, musim tanam kali ini bukan hanya persoalan tanaman yang gagal dipanen. Kerugian tersebut juga berarti hilangnya modal yang telah dikeluarkan untuk mengolah sawah, membeli benih, serta memenuhi kebutuhan produksi lainnya.
Kini, mereka berharap hujan segera turun dan pemerintah dapat memberikan dukungan agar petani tetap mampu bertahan menghadapi dampak kemarau panjang. (ujg)
