Kafe Menjamur di Kota Tasikmalaya, Pasar yang Diperebutkan Masih Sama

Kafe
Bangunan salah satu kafe yang ada di Kota Tasikmalaya. (Fitriah Widayanti/Radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Fenomena menjamurnya kafe dan usaha kuliner di Kota Tasikmalaya dinilai menjadi cerminan tumbuhnya semangat kewirausahaan masyarakat. Di balik ketatnya persaingan, pelaku usaha melihat geliat tersebut sebagai pertanda bahwa iklim bisnis di Kota Resik masih memiliki prospek yang menjanjikan.

Berdasarkan data Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Tasikmalaya, saat ini terdapat sekitar 152 kafe, 362 kedai minuman, dan 6.608 kedai makanan yang tersebar di berbagai wilayah. Pertumbuhan usaha kuliner itu pun menjadi salah satu wajah perkembangan ekonomi Kota Tasikmalaya dalam beberapa tahun terakhir.

Pengusaha Kota Tasikmalaya, Yovita Hamdani, menilai banyaknya kafe yang bermunculan tidak semata-mata dipicu tren masyarakat mencari tempat berkumpul atau melepas penat setelah bekerja. Menurutnya, fenomena tersebut juga menunjukkan keberanian masyarakat untuk membangun usaha.

Baca Juga:Laba Astra International Turun 19 Persen di Semester I 2026, Bagaimana Nasibnya di Paruh Kedua?MAPI Cetak Laba Bersih Rp 1,2 Triliun di Semester I 2026, Pendapatan Melampaui Ekspektasi

“Kalau saya melihatnya mental pengusaha di Tasik itu luar biasa. Mental pejuangnya ada. Pokoknya kembali lagi, persaingan juga semakin ketat,” ujarnya.

Yovita optimistis sektor kuliner di Kota Tasikmalaya masih memiliki ruang untuk berkembang. Optimisme itu didorong oleh bertambahnya aktivitas ekonomi di kota ini, mulai dari berdirinya sejumlah perguruan tinggi, termasuk kampus negeri yang menarik mahasiswa dari berbagai daerah, meningkatnya kawasan perkantoran, hingga posisi Kota Tasikmalaya sebagai pusat perekonomian Priangan Timur.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pasar semakin beragam, mulai dari produk dengan harga terjangkau hingga kuliner premium kini dapat ditemukan di Kota Tasikmalaya.

Meski demikian, ia mengakui tidak semua usaha mampu bertahan dalam persaingan. Banyak pelaku usaha yang harus menutup usahanya meski baru beroperasi dalam waktu relatif singkat.

Yovita menilai pertumbuhan jumlah pelaku usaha belum sepenuhnya diimbangi dengan bertambahnya jumlah konsumen. Akibatnya, banyak usaha baru harus berebut pasar yang sama.

“Karena yang makannya itu-itu lagi, tapi ini ada bagusnya karena dengan begitu ekonominya jalan. Namun, kembali lagi nanti akan tersaring yang bisa bertahan lima tahun, sepuluh tahun,” katanya.

Ia menambahkan, fenomena fear of missing out (FOMO) juga turut memengaruhi keberlangsungan usaha kuliner. Tidak sedikit pelaku usaha yang membuka bisnis karena mengikuti tren yang sedang berkembang. Dampaknya, usaha tersebut ramai pada masa awal pembukaan, tetapi perlahan kehilangan pelanggan hingga akhirnya berhenti beroperasi.

0 Komentar