Secara kumulatif, NIM semester I 2026 berada pada level 4,6 persen, sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 4,8 persen.
Manajemen Bank Mandiri memperkirakan tekanan terhadap NIM masih berlanjut pada kuartal III 2026 sebelum memasuki fase stabilisasi pada kuartal IV 2026.
Kondisi likuiditas yang masih ketat menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kenaikan biaya dana.
Baca Juga:Kemnaker Mediasi Perselisihan PHK PT Amos Indah Indonesia, 134 Eks Pekerja Menerima Hak Pesangon Rp 12,7 MSharp Indonesia Cetak Prestasi Besar di 2026, Raih 3 Penghargaan Sekaligus dan Buktikan Kepercayaan Konsumen
Atas pertimbangan tersebut, Bank Mandiri menyesuaikan target NIM 2026 menjadi sekitar 4,3 hingga 4,5 persen atau turun sekitar 20 basis poin dibandingkan panduan sebelumnya.
Selain pertumbuhan pendapatan non-bunga, peningkatan laba Bank Mandiri juga mendapat dukungan dari efisiensi biaya operasional dan penurunan beban pencadangan.
Pada kuartal II 2026, biaya operasional atau operational expenditure (opex) turun 9 persen secara tahunan. Sementara itu, sepanjang semester pertama 2026, biaya operasional tercatat turun 1 persen.
Kinerja tersebut lebih baik dibandingkan target awal manajemen yang memperkirakan biaya operasional akan relatif datar hingga hanya meningkat dalam kisaran rendah pada 2026.
Dari sisi kualitas aset, Bank Mandiri juga mencatatkan perbaikan. Beban provisi turun 2 persen secara tahunan pada kuartal II 2026 dan menurun 12 persen selama semester pertama.
Penurunan beban provisi tersebut membuat rasio Cost of Credit (CoC) hingga Juni 2026 berada pada level 0,6 persen.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,7 persen dan berada di batas bawah target manajemen sebesar 0,6 hingga 0,8 persen.
Baca Juga:MagangHub Kemnaker Angkatan II Batch 1 2026 Masih Dibuka, Lulusan Baru Bisa Dapat Pengalaman Kerja Prabowo Menjamu Direktur FBI, Indonesia dan AS Perkuat Upaya Pengembalian Artefak Budaya yang Diselundupkan
Stabilnya kualitas aset tercermin dari kondisi rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) serta Loan at Risk (LAR) yang tetap terkendali.
Menurut analisis Stockbit, meskipun mencatat kinerja positif, prospek Bank Mandiri pada semester kedua 2026 tidak sepenuhnya tanpa tantangan.
Perlambatan pertumbuhan laba diperkirakan terjadi akibat tekanan margin bunga bersih, normalisasi biaya operasional, serta efek basis tinggi atau high base pada semester kedua 2025.
Namun demikian, sejumlah analis masih memperkirakan adanya peluang revisi kenaikan terhadap estimasi laba bersih Bank Mandiri tahun 2026.
Beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan investor ke depan adalah kondisi likuiditas sektor perbankan, terutama apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali meningkat akibat kenaikan harga minyak global yang mendekati level US$100 per barel.
