Maldini Terbang ke Barcelona Temui Guardiola, Italia Bakal Main Tiki-Taka?

Pep Guardiola
Pep Guardiolafoto: instagram @ManCity
0 Komentar

Salah satu perubahan paling mencolok adalah penggunaan formasi yang sangat fleksibel.

Ketika menyerang, Manchester City sering berubah menjadi skema 3-2-4-1 atau bahkan 3-1-6.

Tiga bek bertugas mengantisipasi serangan balik, sedangkan pemain lainnya menguasai area tengah dan depan untuk menekan lawan.

Baca Juga:Agen Bantah Bastoni Ingin Reuni dengan Inzaghi di Al Hilal: Ia Sangat Bahagia di InterAgen Bastoni Ungkap Tantangan Terbesar Paolo Maldini di Timnas Italia: Talenta Ada, tetapi Gagal Berkembang

Guardiola juga memopulerkan peran inverted full-back, yakni bek sayap atau bek tengah yang masuk ke lini tengah saat tim menguasai bola.

Peran seperti yang dimainkan John Stones atau Manuel Akanji memberi City keunggulan jumlah pemain dalam membangun serangan.

Kehadiran Erling Haaland juga membuat permainan City menjadi lebih vertikal.

Jika sebelumnya Guardiola sering menggunakan false nine, kini timnya mampu memanfaatkan umpan langsung ke ruang kosong dengan keberadaan striker murni yang tajam di kotak penalti.

Selain itu, Guardiola meminta para penyerang sayap bergerak lebih sempit ke tengah lapangan.

Tujuannya adalah menarik pertahanan lawan agar membuka ruang di sisi lapangan yang kemudian dieksploitasi oleh bek sayap yang melakukan overlap.

Perubahan lainnya adalah pendekatan yang lebih pragmatis. Manchester City tidak lagi memaksakan penguasaan bola sepanjang pertandingan.

Dalam situasi tertentu, mereka rela menunggu lebih dalam untuk memancing lawan keluar sebelum melancarkan serangan balik cepat yang mematikan.

Baca Juga:AC Milan Diminta Berani Ambil Risiko Mainkan Duet Kostic dan Camarda di Lini DepanAmorim Ingin AC Milan Bermain Menyerang, Modric Kemungkinan Besar Bertahan

Apabila Guardiola benar-benar menerima pinangan FIGC, Italia diprediksi akan meninggalkan citra lama sebagai tim yang identik dengan pertahanan kokoh dan permainan reaktif.

Di bawah Guardiola, Gli Azzurri berpotensi berubah menjadi tim yang menguasai pertandingan melalui penguasaan bola, pressing tinggi, serta permainan menyerang yang atraktif.

Bagi Paolo Maldini, mendatangkan Guardiola bukan hanya soal mencari pelatih terbaik, tetapi juga membangun identitas baru Timnas Italia yang mampu bersaing dengan kekuatan-kekuatan besar Eropa dalam jangka panjang.

Meski begitu, jalan FIGC untuk mendapatkan Guardiola dipastikan tidak mudah.

Setelah mengakhiri kebersamaannya dengan Manchester City, pelatih berusia 55 tahun itu sempat mengungkapkan keinginannya untuk beristirahat dari dunia sepak bola.

“Secara mental saya tidak merasa kehilangan apa pun. Saya rasa saya tidak akan terlalu merindukan sepak bola dalam dua minggu ataupun tiga bulan ke depan,” ujar Guardiola beberapa waktu lalu.

0 Komentar