Tamu Agung Sukses Hidupkan Longser di Kota Tasikmalaya, Satir Korupsi Jadi Cermin Kekuasaan

Longser Tamu Agung
Penampilan Longser Tamu Agung di halaman Bale Kota Tasikmalaya, Sabtu malam (11/7/2026). Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Setelah nyaris satu dekade menghilang dari ruang publik, kesenian Longser akhirnya kembali menyapa warga Kota Tasikmalaya.

Bukan sekadar menghadirkan nostalgia, pertunjukan Tamu Agung justru membawa sindiran tajam tentang wajah kekuasaan, korupsi, dan kepanikan para pejabat saat pengawas datang mengetuk pintu.

Pertunjukan hasil kolaborasi Yayasan Silih Anjang Sono dan Lesbumi PCNU Kota Tasikmalaya itu digelar gratis di halaman Bale Kota Tasikmalaya, Sabtu malam (11/7/2026).

Baca Juga:Pesta Rakyat di Mako Brimob Cineam Banjir Antusiasme, Budaya Jadi Bahasa PengabdianKronologi Kecelakaan Beruntun Fortuner di Kawalu Tasikmalaya Terungkap, Polisi Dalami Penyebab

Pementasan tersebut merupakan adaptasi karya klasik The Revizor karya Nikolai Gogol yang disadur menjadi Longser Sunda dengan sentuhan lokal yang kental.

Suasana panggung pun berbeda dari pertunjukan teater pada umumnya. Tidak ada jarak antara pemain dan penonton.

Gelak tawa, dialog berbahasa Sunda, hingga bobodoran khas Longser membaur bersama masyarakat, menghidupkan kembali tradisi yang lama menghilang dari Kota Resik.

Sutradara Tamu Agung, Pongkir Wijaya, mengatakan Longser yang benar-benar melebur bersama masyarakat sudah sekitar sepuluh tahun tidak lagi hadir di Tasikmalaya.

“Kalau kita evaluasi, selama sepuluh tahun terakhir belum ada lagi pertunjukan Longser di Tasikmalaya yang benar-benar inklusif dan melebur tanpa sekat bersama warga,” ujarnya kepada Radar.

Menurutnya, kekosongan itu membuat satu generasi tumbuh tanpa pernah mengenal Longser secara langsung.

Anak-anak yang kini berusia sekitar 20 tahun praktis tidak memiliki pengalaman menyaksikan kesenian rakyat yang pernah menjadi ruang berkumpul lintas usia.

Baca Juga:Fortuner Seruduk 5 Motor di Kawalu Tasikmalaya, Dugaan Hilang Kendali Masih Diselidiki PolisiParkir Pihak Ketiga di Kota Tasikmalaya Bisa Picu Polemik Sosial, Warga Lokal Jangan Jadi Penonton

Ia berharap pementasan ini menjadi obat penawar rindu bagi masyarakat sekaligus pintu masuk agar generasi muda mengenal kembali warisan budaya Sunda.

“Semoga ini menjadi obat penawar rindu, terutama bagi penonton dewasa yang merindukan Longser. Anak-anak muda sekarang memang banyak yang tidak tahu Longser karena ini warisan budaya yang sudah ada bahkan sebelum Indonesia merdeka,” katanya.

Meski tetap mempertahankan ruh Longser, Pongkir mengaku melakukan sejumlah penyesuaian agar lebih mudah diterima penonton masa kini.

“Longser ini kami modifikasi sedemikian rupa supaya bisa dinikmati, bahkan dicintai oleh penonton baru,” ucapnya.

Dalam Tamu Agung ini, penonton diajak mengikuti kepanikan para pejabat di Kota Bale Seep yang panik setelah mendengar kabar akan datangnya seorang Inspektur Jenderal untuk memeriksa dugaan korupsi.

0 Komentar