Tamu Agung Sukses Hidupkan Longser di Kota Tasikmalaya, Satir Korupsi Jadi Cermin Kekuasaan

Longser Tamu Agung
Penampilan Longser Tamu Agung di halaman Bale Kota Tasikmalaya, Sabtu malam (11/7/2026). Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Mulai dari kasus bantuan sosial, proyek pasir, hingga emas puluhan kilogram, semuanya mendadak ingin disembunyikan.

Berkas proyek diamankan, data direkayasa, bahkan brankas berisi emas disebut-sebut harus segera dipindahkan. Amplop pun tetap disiapkan, meski “katanya” kini lebih tipis karena efisiensi anggaran.

Ironisnya, seluruh pejabat justru salah sasaran. Mereka mengira seorang mahasiswa bernama Aa Kiki yang diperankan Ki Daus adalah Inspektur Jenderal yang menyamar.

Baca Juga:Pesta Rakyat di Mako Brimob Cineam Banjir Antusiasme, Budaya Jadi Bahasa PengabdianKronologi Kecelakaan Beruntun Fortuner di Kawalu Tasikmalaya Terungkap, Polisi Dalami Penyebab

Sang tamu palsu pun dijemput bak pejabat negara, dijamu mewah, diberi berbagai hadiah hingga uang, sementara pejabat yang sebenarnya justru datang belakangan.

Tawa penonton pecah hampir sepanjang pertunjukan. Namun di balik komedi itu tersimpan sindiran bahwa kekuasaan sering kali lebih sibuk menyelamatkan diri dibanding memperbaiki kesalahan.

Meski demikian, Pongkir menegaskan cerita tersebut hanyalah siloka atau perumpamaan.

“Naskah ini aslinya dari Rusia, The Revizor atau Inspektur Jenderal. Kami terjemahkan dan sadur menjadi Longser Sunda berjudul Tamu Agung. Ceritanya seputar pemerintahan yang, mohon maaf, korup, tapi tentu bukan di kota kita,” terang sambil tersenyum.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, yang turut menyaksikan pertunjukan tersebut menilai kekuatan Longser bukan hanya pada komedinya, tetapi juga pesan moral yang disampaikan.

Menurutnya, cerita tersebut mengingatkan bahwa manusia memang tidak bisa lepas dari kesalahan. Namun kesalahan tidak boleh ditutupi dengan kesalahan baru.

“Kalau sudah salah jangan menyelesaikan masalah dengan cara yang salah. Karena akhirnya akan semakin bermasalah. Kalau salah, akui salah, benahi, pelajari, lalu perbaiki. Jangan mencari kambing hitam,” tuturnya.

Ia juga mengapresiasi kolaborasi berbagai kelompok teater yang berhasil menyatukan karakter dalam satu panggung.

Baca Juga:Fortuner Seruduk 5 Motor di Kawalu Tasikmalaya, Dugaan Hilang Kendali Masih Diselidiki PolisiParkir Pihak Ketiga di Kota Tasikmalaya Bisa Picu Polemik Sosial, Warga Lokal Jangan Jadi Penonton

“Ini luar biasa. Menggabungkan teman-teman teater dari berbagai latar itu tidak mudah. Tapi tadi saya lihat chemistry-nya sudah terbentuk dengan baik,” tambahnya.

Pementasan Tamu Agung ini menjadi bukti bahwa Longser belum kehilangan daya hidupnya.

Di tengah gempuran hiburan digital, panggung rakyat masih mampu membuat masyarakat tertawa bersama, sekaligus bercermin bahwa kritik paling tajam kadang justru lahir dari guyonan yang terasa akrab.

0 Komentar