Untuk mengejar target, Dinas Kesehatan akan menetapkan satu RW di setiap kelurahan sebagai lokasi percepatan STBM.
Sebanyak 69 RW di 69 kelurahan ditargetkan mampu memenuhi lima pilar STBM hingga akhir 2026 dengan dukungan bank sampah, TPS3R, Posyandu aktif serta Kelompok Wanita Tani.
Sementara itu, Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda DLH Kota Tasikmalaya, Dewi Nusarini, menegaskan perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam meningkatkan capaian Pilar 4.
Baca Juga:Bank Mandiri Tasikmalaya Minta Waktu, Kasus Dana Talang Milik Nasabah Prioritas Rp6,85 Miliar MenggantungKopi Dekafeinasi Jadi Senjata Cegah Diare dan Tambah Cuan, Inovasi Dosen Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Ia mengajak masyarakat memulai langkah sederhana melalui prinsip reduce atau mengurangi sampah sejak dari sumbernya, seperti menghindari kemasan sekali pakai, membawa tas belanja sendiri, menggunakan wadah makan yang dapat dipakai berulang, serta menghabiskan makanan agar tidak menjadi sampah.
“Kalau mengadakan kegiatan, gunakan peralatan makan yang bisa dipakai ulang. Memang lebih repot, tetapi setelah acara selesai tidak ada tumpukan sampah,” bebernya.
Dewi juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi penggunaan styrofoam karena membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai dan dapat berubah menjadi mikroplastik yang akhirnya kembali masuk ke rantai makanan manusia.
“Styrofoam bisa terurai sampai ratusan tahun dan menjadi mikroplastik. Itu bisa masuk ke tubuh manusia melalui ikan yang kita konsumsi. Karena itu sebisa mungkin hindari penggunaan kemasan sekali pakai,” ujarnya.
Melalui kolaborasi lintas sektor dan perubahan perilaku masyarakat, Pemkot Tasikmalaya berharap capaian STBM terus meningkat sehingga target penghargaan STBM Award dan Swasti Saba dengan kategori yang lebih tinggi dapat diraih pada penilaian mendatang. (rezza rizaldi)
