TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Potensi kopi di Kabupaten Tasikmalaya tak lagi sekadar diseduh menjadi minuman.
Melalui sentuhan inovasi, biji kopi kini diolah menjadi kopi dekafeinasi yang lebih ramah bagi lambung sekaligus berpeluang meningkatkan pendapatan masyarakat.
Inovasi tersebut diperkenalkan Tim Dosen Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya melalui program pengabdian kepada masyarakat di Desa Sukamahi, Kecamatan Sukaratu.
Baca Juga:Kata Ketua TP PKK Kota Tasikmalaya: Ketahanan Keluarga Jadi Benteng Cegah Geng MotorPolres Tasikmalaya Kota Sabet Empat Gelar dari Polda Jawa Barat, Prestasi Jangan Berhenti di Piala
Selama enam bulan, mulai April hingga September 2026, mereka melatih warga mengolah kopi dekafeinasi dengan metode konvensional yang mudah diterapkan di tingkat rumah tangga.
Program yang dipimpin Apt. Rani Rubiyanti, M.Farm bersama Dr. Imat Rochimat, S.KM., M.M. itu melibatkan 20 kader PKK dan 10 warga nonproduktif secara ekonomi.
Tak sekadar mengajarkan teknik pengolahan kopi, kegiatan ini juga membawa misi meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan diare melalui pola konsumsi yang lebih sehat.
Ketua tim pengabdian, Apt. Rani Rubiyanti, M.Farm menjelaskan, kopi dekafeinasi dipilih karena kandungan kafein pada kopi biasa dapat memicu gangguan pencernaan bagi sebagian orang, termasuk memperparah kondisi diare.
“Melalui pelatihan ini kami ingin meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang diare dan pentingnya pola hidup sehat. Sekaligus memperkenalkan alternatif kopi dekafeinasi yang lebih ramah bagi lambung,” ujarnya kepada wartawan, Senin (6/7/2026).
Peserta mendapatkan edukasi mengenai penyebab diare, pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hingga manfaat mengurangi konsumsi kafein, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia dan penderita gangguan lambung.
Tak berhenti pada teori, warga juga diajak mempraktikkan proses mengolah biji kopi menjadi kopi dekafeinasi secara konvensional.
Baca Juga:Dana Talang Rp6,85 Miliar Belum Cair, Nasabah Prioritas Bank Mandiri Mengaku DipingpongKepala Daerah Wajib Tegas! Target PAD Terus Meleset, Kinerja OPD Pemkot Tasikmalaya Harus Dievaluasi
Metode tersebut dipilih karena tidak membutuhkan teknologi maupun peralatan mahal sehingga berpeluang dikembangkan sebagai usaha rumahan.
Peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan, mulai dari penyangraian, proses perendaman, hingga pengeringan biji kopi.
Melalui pelatihan itu, peserta diharapkan tidak hanya memahami manfaat kopi dekafeinasi, tetapi juga memiliki keterampilan untuk memproduksinya secara mandiri.
“Kami ingin kader PKK menjadi agen perubahan. Pengetahuan yang diperoleh bisa diteruskan kepada keluarga dan masyarakat sehingga manfaatnya semakin luas,” terang Rani.
Sementara itu, Dr. Imat Rochimat, S.KM., M.M. menilai inovasi tersebut dapat menjadi nilai tambah bagi komoditas kopi lokal Tasikmalaya.
