Banyak Botol Miras Dibuang di Sawah Jalan Lingkar Utara Tasikmalaya, Bikin Petani Geram

botol miras di sawah Tasikmalaya
Petani memperlihatkan botol miras yang ditemukan di areal pesawahnya di Jalan Lingkar Utara Kota Tasikmalaya, Senin (6/7/2026). istimewa for radartasik.id
0 Komentar

Meski botol bekas memiliki nilai jual, Atik memilih tidak mengambil maupun menjualnya.

“Teu sudi teuing, atuh sama haramnya,” katanya.

Petani lainnya, Saeful Anwar, mengatakan persoalan itu sudah muncul sejak Jalan Lingkar Utara dibangun. Kawasan tersebut lambat laun menjadi lokasi berkumpul, termasuk tempat pesta miras pada malam hari.

Menurut dia, berbagai upaya seperti razia aparat hingga imbauan sudah dilakukan. Namun kebiasaan membuang botol ke sawah tetap berulang.

Baca Juga:Capaian STBM Pilar 4 di Kota Tasikmalaya Jadi PR, Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Tuntaskan TargetBank Mandiri Tasikmalaya Minta Waktu, Kasus Dana Talang Milik Nasabah Prioritas Rp6,85 Miliar Menggantung

“Dilaporkan sudah, pernah dirazia juga. Tapi ya dasar orang mabuk, pikirannya ngaco, seenaknya saja membuang botol ke sawah,” ucapnya.

Ia menegaskan para petani tidak ingin mencampuri urusan orang yang mengonsumsi miras. Yang mereka tuntut hanyalah tanggung jawab agar botol maupun sampah tidak dibuang ke lahan pertanian.

“Silakan saja kalau urusan mereka. Tapi jangan lempar botol ke sawah. Taruh saja di pinggir jalan, nanti ada pemulung yang mengambil. Kasihan petani jadi celaka,” katanya.

Keluhan senada disampaikan Ahmid. Menurutnya, aktivitas mabuk-mabukan di kawasan JLU juga memicu berbagai persoalan lain, mulai dari keributan hingga aksi berkendara ugal-ugalan.

Ia berharap patroli aparat keamanan lebih rutin dilakukan, disertai perbaikan penerangan jalan agar kawasan tersebut tidak lagi menjadi lokasi favorit pesta miras.

“Dulu kami ke sawah tenang. Sekarang justru sering muncul masalah. Tolong patroli lebih sering dan lampu jalannya diperhatikan supaya tidak gelap,” pungkasnya.

Ironisnya, saat musim panen tiba, para petani kini tak hanya memanen padi. Mereka juga harus “memanen” botol-botol miras yang tertanam di lumpur—potret kelalaian yang justru melukai tangan-tangan yang menjaga ketahanan pangan. (rezza rizaldi)

0 Komentar