TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Dunia perhotelan di Tasikmalaya sedang diteror modus penipuan baru.
Dalam sebulan terakhir, lebih dari 20 kasus dugaan booking hotel palsu terjadi dengan pola yang sama, yakni memanfaatkan perubahan nomor kontak hotel di Google, mengirim bukti transfer palsu, lalu meminta uang dikembalikan.
Fenomena itu menjadi perhatian dalam Pertemuan Bulanan Badan Pengurus Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC PHRI) Tasikmalaya di Hotel Santika, Selasa (30/6/2026).
Baca Juga:Cash Flow Pemkot Tasikmalaya Terus Diatur Ketat, Program Disisir UlangKekosongan Kursi Kepala OPD di Kota Tasikmalaya Bertambah, Pengisian Tertahan Merger
Ketua BPC PHRI Tasikmalaya, Susi Susanti, mengatakan aksi pelaku nyaris terjadi setiap hari dan menyasar sejumlah hotel di Tasikmalaya.
“Kurang lebih sudah sebulan terakhir. Kasusnya banyak, sekitar 70 kejadian. Hampir setiap hari ada laporan dengan modus yang sama,” ujarnya kepada Radar.
Susi menjelaskan, pelaku terlebih dahulu mengubah nomor WhatsApp hotel yang tampil di Google. Calon tamu yang hendak memesan kamar kemudian diarahkan menghubungi nomor palsu tersebut.
Selanjutnya, pelaku mengirimkan bukti transfer yang telah direkayasa. Tak lama kemudian mereka menghubungi pihak hotel dengan alasan tamu membatalkan kedatangan dan meminta uang dikembalikan melalui rekening atau dompet digital.
Padahal, dana yang diklaim telah ditransfer tidak pernah masuk ke rekening hotel.
“Modusnya mengaku sudah transfer, padahal uangnya tidak ada. Yang dikirim hanya bukti transfer palsu. Setelah itu mereka mendesak agar uang segera dikembalikan,” terangnya.
Menurut Susi, pelaku terus mengganti nomor WhatsApp maupun identitas profil sehingga menyulitkan upaya pemblokiran.
Baca Juga:Sertifikat Halal Jadi Alarm Baru bagi UMKM TasikmalayaDugaan Penyekapan di Cibeureum Kota Tasikmalaya Terbongkar, Korban Jadi Jaminan Utang
Laporan juga telah disampaikan kepada pihak kepolisian dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), namun akun maupun nomor baru terus bermunculan.
Dampaknya bukan hanya berpotensi menimbulkan kerugian materi, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap hotel.
“Nama baik hotel ikut terdampak. Orang mengira hotel yang bermasalah, padahal uangnya memang tidak pernah masuk,” ucapnya.
Ia menyebut beberapa hotel di Tasikmalaya pernah menjadi sasaran modus tersebut, di antaranya Hotel Santika, Hotel Borobudur, dan Hotel City. Kasus serupa juga mulai ditemukan di Purwakarta.
Sementara itu, Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Andi Purwanto yang turut hadir dalam pertemuan menuturkan, penipuan berkedok reservasi hotel merupakan bagian dari kejahatan siber yang kini terjadi di berbagai daerah.
