“Selain menjaga kesehatan, olahraga tradisional juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya lokal yang memiliki nilai luhur. Karena itu, seluruh pihak perlu bersama-sama mendukung agar permainan tradisional tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Olahraga Disparpora Kabupaten Tasikmalaya, H. Sera Sani Verana, mengatakan festival tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keberlangsungan olahraga tradisional sebagai warisan budaya masyarakat Sunda.
Menurutnya, festival tidak hanya menjadi sarana aktivitas fisik yang menyehatkan dan meningkatkan kebugaran tubuh, tetapi juga momentum untuk mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya menjaga budaya daerah yang mulai tergerus perkembangan zaman.
Baca Juga:Kuatkan Struktur Hingga Akar Rumput, PAN Kabupaten Tasikmalaya Targetkan Melesat di 2029Jadilah Bagian Sejarah SMAN 1 Pagerageung Tasikmalaya, Pendaftar Calon Murid Baru Membludak
“Selain sebagai ajang kebugaran, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengingatkan kembali budaya Sunda yang ada di Kabupaten Tasikmalaya melalui berbagai cabang olahraga tradisional,” ujar Sera.
Ia menjelaskan, minat anak-anak terhadap permainan dan olahraga tradisional saat ini mulai mengalami pergeseran. Pengaruh budaya luar serta perkembangan teknologi membuat sebagian generasi muda lebih mengenal permainan modern dibandingkan permainan tradisional yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat.
Karena itu, Disparpora Kabupaten Tasikmalaya terus berupaya menghadirkan Festival Olahraga Tradisional sebagai media edukasi sekaligus sarana pelestarian budaya daerah.
“Utamanya untuk anak usia sekolah. Saat ini budaya tradisional mulai bergeser oleh pengaruh budaya asing. Dengan adanya festival ini, kami ingin mengingatkan kembali masyarakat, terutama generasi muda, terhadap budaya tradisional dan olahraga tradisional yang ada di Kabupaten Tasikmalaya,” katanya. (yfi)
