Harry Kane Samai Rekor David Beckham: Cetak Gol di Tiga Piala Dunia

Harry Kane
Harry Kane  Foto: Tangkapan layar Instagram@fifaworldcup 
0 Komentar

Usai pertandingan, Kane mengungkapkan bahwa keberhasilannya mencetak gol dari titik putih bukan semata-mata karena keberuntungan.

Pemain berusia 32 tahun itu mengaku sudah mempelajari kebiasaan Livakovic jauh sebelum pertandingan berlangsung.

“Saya menganalisis rekaman pertandingan dan melihat bahwa dia sering bergerak terlalu cepat sebelum penalti ditendang,” kata Kane.

Baca Juga:Jurnalis Italia Ramal Greenwood Gabung AS Roma Dua Minggu LagiResmi! AS Roma Kena Denda Rp120 Miliar Usai Gagal Penuhi Target Aturan Financial Fair Play

“Saya tahu jika memperlambat langkah saat berlari menuju bola, ada kemungkinan dia meninggalkan garis lebih dulu. Saya sekitar 80 persen yakin dia keluar dari garis, meski tidak seratus persen yakin,” lanjutnya.

Kane mengungkapkan bahwa ketika penalti diputuskan untuk diulang, ia langsung mengubah sedikit teknik eksekusinya agar lebih sulit dibaca oleh sang penjaga gawang.

Menurutnya, kebiasaan mempelajari lawan secara detail menjadi salah satu faktor penting yang membuatnya mampu menjaga konsistensi sebagai eksekutor penalti.

“Itulah mengapa saya selalu mempelajari lawan. Pada akhirnya, strategi itu bekerja sesuai harapan,” ujarnya.

Dalam situasi seperti itu, tekanan biasanya justru meningkat. Banyak pemain yang gagal memanfaatkan kesempatan kedua setelah penalti pertama dibatalkan atau digagalkan.

Namun Kane menunjukkan mentalitas yang berbeda.

Ia mengakui bahwa eksekusi kedua memang menghadirkan tekanan tambahan, termasuk permainan psikologis antara dirinya dan kiper lawan.

“Ketika harus mengambil tendangan kedua, tentu tekanannya lebih besar. Ada permainan mental juga di sana,” kata Kane.

Baca Juga:Ronaldo Jadi Beban Portugal: Nol Tembakan Tepat Sasaran, Kalah Duel Udara dan Tak Ada Dribel Sukses Inter Gigit Jari? Arsenal Siapkan Rp1 Triliun untuk Bajak Manu Kone dari AS Roma

“Tetapi saya selalu percaya pada proses yang saya jalani. Saya percaya pada mentalitas saya dan percaya pada cara saya menendang bola. Karena itu saya tetap tenang,” tambahnya.

Kepercayaan diri itulah yang selama bertahun-tahun membuat Kane menjadi salah satu penyerang paling produktif di dunia.

Sejak ditunjuk sebagai pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel menjadikan Kane sebagai pusat permainan tim.

Pengalaman, ketajaman, dan kepemimpinannya dianggap sangat penting dalam ambisi Inggris meraih trofi Piala Dunia pertama sejak 1966.

Meski sudah memasuki usia kepala tiga, Kane terus menunjukkan bahwa dirinya masih menjadi mesin gol utama Three Lions.

Rekor demi rekor terus ia pecahkan. Dari status pencetak gol terbanyak Timnas Inggris hingga kini menyamai pencapaian David Beckham di Piala Dunia.

0 Komentar