Kemenangan tersebut membuat suasana tim sangat antusias. Vardy pun berpikir metode tersebut akan terus dipertahankan karena terbukti efektif.
“Semua orang sangat senang. Dalam pikiran saya, saya berkata, ‘Bagus, kita akan terus seperti ini’. Tetapi ternyata tidak,” katanya.
Menurut Vardy, setelah kemenangan itu tim kembali menjalani latihan setiap hari dengan alasan pertandingan berikutnya melawan Pisa sangat penting.
Baca Juga:Jurnalis Italia Sindir Revolusi AC Milan ala Cardinale: Punya Jadwal Pramusim Meski Tak Miliki Pelatih Oliver Glasner Kandidat Terkuat Pelatih AC Milan: Ralf Rangnick Calon Direktur Teknik
“Mereka mengatakan pertandingan melawan Pisa sangat penting. Tapi bukankah semua pertandingan penting? Saya tidak melihat ada perbedaannya. Setidaknya itulah cara berpikir saya,” tegasnya.
Selain persoalan sepak bola, Vardy juga mengakui bahwa kehidupan di Italia tidak mudah bagi keluarganya.
Pindah ke negara baru dengan budaya dan bahasa yang berbeda menjadi tantangan besar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Jika saya harus jujur, pindah ke luar negeri bersama keluarga benar-benar sangat sulit,” ujarnya.
Karena berbagai kesulitan tersebut, keluarganya bahkan lebih dulu kembali ke Inggris sebelum dirinya menyusul.
Situasi itu membuat Vardy merasa bersalah karena tidak mampu memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi orang-orang terdekatnya.
“Ini benar-benar sebuah perjuangan. Saya juga merasa sangat bersalah. Saya selalu bermain terbaik ketika menikmati hidup dan bisa tertawa,” katanya.
Baca Juga:Daftar 6 Pemain yang Akan Diusir Mourinho dari Real Madrid: Ada Nama Camavinga dan Rodrygo Jose Mourinho Minta Real Madrid Datangkan Nico Schlotterbeck
Vardy kemudian mengenang perjalanan panjang kariernya yang penuh tantangan sejak bermain di level bawah sepak bola Inggris hingga akhirnya menjadi juara Liga Inggris bersama Leicester City FC.
“Saya selalu bisa menertawakan keadaan, bahkan ketika masih duduk di bangku cadangan di liga-liga kecil. Saya tidak pernah menyerah dan semuanya terbayar. Sepak bola telah menyelamatkan hidup saya,” tutur Vardy.
Dengan gaya khasnya yang lugas dan tanpa basa-basi, Vardy memberikan gambaran menarik mengenai perbedaan budaya sepak bola Inggris dan Italia.
Meski menghormati pengalaman yang diperolehnya di Serie A, striker veteran itu tampaknya tetap lebih nyaman dengan pendekatan sepak bola Inggris yang menurutnya lebih seimbang antara latihan dan pemulihan kondisi pemain.
