Selain bertukar pengetahuan mengenai pertanian, kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi para santri untuk berinteraksi langsung dengan mahasiswa asing.
Kesempatan itu dimanfaatkan para siswa untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris sekaligus menambah wawasan mengenai kehidupan akademik di luar negeri.
“Biasanya kalau kedatangan orang baru itu mereka lebih senang. Jadi vocab mereka ataupun bahasa mereka akan lebih terasah karena bisa langsung ngobrol dengan mereka,” katanya.
Baca Juga:Satu Bakul dari Kota Tasikmalaya, Banyak Harapan untuk Indonesia!Mencari Dirigen Baru Birokrasi Kabupaten Tasikmalaya!
Dudung menuturkan para mahasiswa juga mengaku terkesan dengan lingkungan pesantren yang dinilai nyaman dan mendukung kegiatan pembelajaran.
Antusiasme para santri selama mengikuti diskusi turut menjadi kesan tersendiri bagi para tamu asal Amerika Serikat tersebut.
Kunjungan tersebut sekaligus mencerminkan komitmen Al-Kautsar untuk membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak tanpa memandang latar belakang budaya maupun agama.
“Kalau di kita siapapun boleh datang ke kita. Mau mereka nonmuslim, mereka apapun, kita boleh selagi kita masih bisa sharing ilmu seperti itu. Jadi yang kita angkat adalah edukasinya, bukan masalah pendidikan Islamnya,” ujarnya.
Komunikasi yang terjalin dalam kunjungan tersebut pun tidak berhenti pada pertemuan sehari. Ponpes Al-Kautsar dan PT Salam Growing yang menjembatani kunjungan itu kini tengah menjajaki peluang kerja sama lanjutan yang memungkinkan mahasiswa asal Amerika Serikat berinteraksi lebih intens dengan para santri.
“Mungkin ke depannya kita akan ada kerja sama. Kalau mereka ada kunjungan di sini lagi, kita akan luangkan waktu mungkin buat mereka satu minggu di sini, seperti English Camp buat anak-anak. Jadi mereka tidak hanya sharing ilmu di bidang pertaniannya, tapi mereka juga akan sharing ilmu percakapan bahasa Inggris buat anak-anak di sini,” katanya.
Melalui kolaborasi tersebut, pihaknya berharap para santri tidak hanya memperoleh wawasan global mengenai perkembangan pertanian, tetapi juga semakin percaya diri dalam berkomunikasi dengan dunia internasional serta melihat sektor pertanian sebagai bidang yang menjanjikan di masa depan. (Fitriah Widayanti)
