Pelatih asal Basque itu dikabarkan lebih tertarik melanjutkan karier di Premier League dibanding menerima proyek penuh ketidakpastian di San Siro.
Ironisnya, menurut sejumlah laporan media Italia, Iraola bahkan disebut lebih memilih Crystal Palace dibanding AC Milan.
Padahal secara sejarah dan prestasi, Rossoneri jauh lebih besar dibanding klub London tersebut.
Baca Juga:Paolo Maldini Sindir Pemilik AC Milan: “One Man Show? Dia Menjawab Dirinya Sendiri”Media Italia: Rayuan Ibrahimovic dan Cardinale Tak Cukup Yakinkan Andoni Iraola untuk Latih AC Milan
Namun, kondisi Milan saat ini dianggap tidak cukup meyakinkan bagi sang pelatih.
Iraola disebut melihat proyek Milan sebagai pekerjaan dengan terlalu banyak tanda tanya. Struktur manajemen belum jelas, arah klub masih kabur, dan proyek olahraga sedang dibangun ulang hampir dari nol.
Bagi sebagian pengamat, penolakan Iraola menjadi pukulan telak bagi citra Milan di mata sepak bola Eropa.
Direktur olahraga Bournemouth, Tiago Pinto, sebelumnya bahkan pernah menggambarkan Iraola sebagai sosok yang tidak takut menghadapi tekanan dan tantangan.
Karena itu, keraguan sang pelatih diyakini bukan karena tekanan besar di Milan, melainkan karena ia tidak percaya dengan proyek yang ditawarkan kepadanya.
Kondisi tersebut membuat Milan kini terancam kembali mengulang kesalahan musim lalu. Saat itu mereka sempat mengejar Julen Lopetegui sebelum akhirnya beralih ke Paulo Fonseca setelah rencana awal gagal total.
Kini skenario serupa bisa kembali terjadi jika Iraola benar-benar menolak.
Di tengah kekacauan tersebut, kritik terhadap manajemen klub terus bermunculan.
Banyak pihak menilai Milan terlalu dipenuhi figur korporat dan kehilangan sosok-sosok sepak bola yang benar-benar memahami identitas Rossoneri.
Baca Juga:Massimo Cellino Tolak Ide Galliani Kembali ke AC Milan: Sepak Bola Sudah BerubahEra Baru AC Milan: Leao Masuk Daftar Jual, Van Bommel dan Xabi Alonso Kandidat Terkuat Pengganti Allegri
Klub dinilai membutuhkan orang-orang sepak bola sejati, bukan hanya eksekutif perusahaan atau figur yang sekadar mengikuti keputusan atasan tanpa visi kuat.
Karena itu, tekanan kepada Cardinale dan Ibrahimovic semakin besar. Mereka dituntut segera mengambil keputusan penting sebelum situasi semakin memburuk.
Milan memang berjanji akan memiliki satu visi dan satu arah baru setelah melakukan revolusi besar.
Namun tanpa kepastian pelatih, direktur olahraga, dan struktur manajemen yang solid, janji tersebut untuk sementara masih terdengar seperti slogan kosong.
Kini masa depan Rossoneri berada di titik paling krusial. Waktu terus berjalan, sementara para rival sudah mulai menyusun skuad dan strategi untuk musim baru.
