BANJAR, RADARTASIK.ID – Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mukti Mandiri Bersama Sukamukti, Sri Nurhayati dilaporkan diduga menghilang sejak beberapa hari terakhir.
Kepala Desa Sukamukti, Budi Haryono melalui Sekretaris Desa, Nana Juhana mengatakan pemerintah desa baru mengetahui informasi tersebut setelah orang tua Sri datang ke kantor desa pada Selasa (5/5/2026).
“Selasa kemarin orang tua Sri, datang ke kantor melaporkan bahwa anaknya tidak ada. Kami tindak lanjuti pada hari Rabu-nya lapor ke Camat dan instansi terkait,” ucapnya Jumat (8/5/2026) di kantornya.
Baca Juga:MAN 1 Tasikmalaya Berjaya di Olimpiade PPKN Ke-IX 2026 Tingkat NasionalEmpat Korban Penyiraman Air Keras Masuk Ruang Operasi RSUD dr Soekardjo Kota Tasik, dr Titie Jelaskan Kondisi
Menurut Nana, kabar hilangnya Sri sempat membuat geger karena yang bersangkutan tidak masuk kantor dan nomor WhatsApp-nya tidak aktif. Situasi semakin ramai setelah ada sejumlah pemasok buah datang menagih piutang dengan nominal besar.
Pemerintah desa kemudian berkomunikasi dengan pihak keluarga. Berdasarkan keterangan suaminya, Sri disebut sedang berada di luar daerah.
“Sebenarnya Bumdes kami sehat dan tidak ada masalah, jujur dari pihak DPMD menjadi percontohan. Karena peluang Bumdes dengan dapur MBG terbuka kerjasama dan itu dimanfaatkan oleh direktur Bumdes di Sukamukti,” jelasnya.
Ia menegaskan, selama ini tidak ada indikasi persoalan dalam pengelolaan BUMDes. Administrasi maupun aktivitas kerja dinilai berjalan baik tanpa adanya keluhan.
Namun persoalan mulai mencuat pada Senin (4/5/2026) ketika Sri tidak masuk kantor. Setelah itu, muncul pihak yang mengaku memiliki kerja sama dengan Sri terkait pembayaran barang yang telah dikirim.
Kemudian ada pihak yang mengaku kerjasama dengan yang bersangkutan, janji mau bayar barang yang sudah di kirim. Dari situ lah, pihaknya berfikir sebenarnya ada masalah apa.
Pemerintah desa pun langsung mengumpulkan perangkat desa untuk mencari keberadaan Sri karena banyak pihak mulai datang menagih ke kantor desa.
Baca Juga:Diduga Jadi Korban Penyiraman Air Keras, Enam Orang Masuk RSUD dr Sokardjo TasikmalayaAnggaran dengan Menu Misterius!
“Kami pun reaktif, karena ada pihak yang menagih ke desa karena bagaimana pun yang bersangkutan membawa bendera Bumdes sehingga harus diselesaikan,” terangnya.
Setelah memeriksa dokumen kerja sama yang dibawa pihak ketiga, pemerintah desa mengaku kaget karena kerja sama tersebut ternyata dilakukan secara pribadi, bukan atas nama resmi BUMDes. Padahal, kata dia, setiap kerja sama BUMDes seharusnya melalui musyawarah desa terlebih dahulu.
