Selain PMK, kewaspadaan juga diarahkan pada LSD yang ditandai benjolan pada kulit ternak. Meski sempat muncul tahun lalu, saat ini kasusnya tidak ditemukan.
“Ketika sapi terkena LSD bisa mengurangi nilai harga jual. Sehingga ketika ada segera diobati vaksin, karena kita memiliki 13 tim teknis tersebar di 27 kecamatan membantu pengobatan hewan ternak,” katanya.
Sementara itu, penjaga pedagang sapi Bali di Jalan Sindangkasih, Deden, menyebutkan bahwa pihaknya menyediakan 53 ekor sapi Bali untuk kebutuhan Idul Adha tahun ini. Ia memastikan seluruh hewan yang dijual dalam kondisi sehat dan telah melalui pemeriksaan ketat.
Baca Juga:GTRA Plus Siap Bongkar Permasalahan Tanah di Kabupaten Tasikmalaya, Ini Kata Agustiana!!Kisruh di Desa Cayur Cikatomas Tasikmalaya, Agustiana: Lebih Baik SPP yang Disalahkan Ketimbang Ulama
“Jadi ada pengecekan dokumen dan kesehatan hewan, sekarang lebih ketat. Sebab, sapi yang benar-benar sehat yang bisa melewati pos pengecekan hewan tersebut,” ujarnya.
“Bahkan ketika ada yang sakit langsung dilakukan karantina,” tambahnya.
Deden menjelaskan, sapi yang didatangkan dari Bali umumnya mengalami penurunan bobot akibat perjalanan panjang. Karena itu, dilakukan pemulihan sebelum dijual.
“Memang ada penurun 10 persen berat badan sapi, dampak perjalanan jauh. Oleh karenanya di sini bisa untuk memulihkan berat badan sapi,” katanya.
Ia menambahkan, bobot sapi yang dijual berkisar antara 260 hingga 390 kilogram dengan harga mulai Rp19 juta hingga Rp28 juta per ekor, atau sekitar Rp70 ribu per kilogram bobot hidup.
“Lalu sapi Bali lebih kuat PMK. Sehingga kondisi sehat dan bebas dari PMK,” pungkasnya. (riz)
