RADARTASIK.ID – Jurnalis Italia Fabrizio Biasin membantah anggapan bahwa Cesc Fabregas hanya terobsesi dengan permainan indah tanpa memikirkan hasil.
Dalam kolom editorialnya di Tuttomercatoweb, Biasin justru menegaskan bahwa pendekatan Fabregas bersama Como 1907 terbukti sangat efektif, baik dari segi permainan maupun hasil di lapangan.
Fabregas memang kerap mendapat label sebagai pelatih “giochista”, istilah yang merujuk pada pelatih yang lebih mengutamakan estetika permainan dibandingkan hasil.
Baca Juga:Juventus Ngebet Datangkan Lewandowski, Pino Zahavi Tunda NegosiasiMoncer di AS Roma, Donyell Malen Jadi Penyesalan Terbesar AC Milan Musim Ini
Namun, Biasin menilai label tersebut tidak lagi relevan dalam sepak bola modern.
“Di musim ketika Fabregas berkali-kali disindir sebagai pelatih yang hanya peduli permainan indah dan mengabaikan efektivitas, ada dua fakta penting yang perlu dilihat,” tulis Biasin.
Ia mengungkapkan bahwa Como saat ini memiliki pertahanan terbaik di Serie A, sekaligus menjadi tim dengan serangan terbaik kedua di kompetisi.
Kombinasi ini biasanya cukup untuk membawa sebuah tim bersaing di papan atas, bahkan memperebutkan gelar juara.
Meski Como saat ini “hanya” berada di peringkat keenam, Biasin menegaskan bahwa posisi tersebut tetap layak diapresiasi, mengingat konsistensi dan kualitas permainan yang ditunjukkan sepanjang musim.
Di bawah arahan Cesc Fabregas, klub ini tidak hanya mampu bertahan dari tekanan, tetapi juga bersaing dengan tim-tim papan atas dalam hal soliditas lini belakang.
Filosofi permainan Fabregas yang kerap dianggap terlalu mengedepankan estetika ternyata justru menghadirkan keseimbangan antara keindahan permainan dan efektivitas.
Baca Juga:Arsenal Lolos ke Final Liga Champions, Sihir Simeone di Atletico Tak Lagi BertuahAC Milan Hasilkan Dana Segar Rp1,7 Triliun dari Penjualan Pemain
Hingga memasuki pekan ke-35, catatan pertahanan Como terbilang impresif dan bahkan melampaui ekspektasi banyak pihak.
Mereka hanya kebobolan 28 gol sepanjang musim sejauh ini—angka yang lebih baik dibandingkan sang juara Inter Milan yang telah kebobolan 31 gol dalam periode yang sama.
Statistik ini menegaskan bahwa Como bukan sekadar tim kuda hitam, melainkan kekuatan baru yang patut diperhitungkan.
Rata-rata kebobolan Como juga sangat rendah, yakni hanya 0,80 gol per pertandingan. Angka tersebut mencerminkan disiplin tinggi di lini belakang serta koordinasi yang solid antar pemain.
Tidak hanya itu, efektivitas pertahanan mereka juga terlihat dari jumlah laga tanpa kebobolan.
