Moncer di AS Roma, Donyell Malen Jadi Penyesalan Terbesar AC Milan Musim Ini

Donyell Malen
Donyell Malen Foto: Tangkapan layar Instagram@officialasroma
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Penampilan gemilang Donyell Malen bersama AS Roma menjadi ironi bagi AC Milan.

Di saat lini serang Rossoneri tumpul, pemain asal Belanda itu justru bersinar terang di bawah asuhan Gian Piero Gasperini.

Keputusan Milan yang melewatkan peluang merekrutnya pada Januari kini berubah menjadi penyesalan besar.

Baca Juga:Arsenal Lolos ke Final Liga Champions, Sihir Simeone di Atletico Tak Lagi BertuahAC Milan Hasilkan Dana Segar Rp1,7 Triliun dari Penjualan Pemain

Bursa transfer musim dingin memang sering menghadirkan dilema. Bagi Milan, periode tersebut justru menjadi titik lemah dan kebutuhan akan penyerang tajam tidak terjawab dengan baik.

Kedatangan Niclas Fullkrug gagal memenuhi ekspektasi, setelah hanya mampu mencetak satu gol di liga, tepatnya saat menghadapi Lecce.

Minimnya kontribusi membuat lini depan Milan kehilangan daya gedor di momen krusial musim ini.

Situasi ini semakin disayangkan karena Malen sebenarnya sempat ditawarkan kepada Milan.

Namun, manajemen memilih tidak melanjutkan negosiasi karena nilai transfer yang mencapai €27 juta atau sekitar Rp459 miliar (kurs €1 = Rp17.000).

Sebaliknya, Roma berani mengambil risiko dengan skema pinjaman senilai €2 juta (Rp34 miliar), yang kemudian terbukti menjadi keputusan tepat.

Sejak bergabung dengan Roma, Malen langsung menjelma menjadi mesin gol baru. Dalam sistem permainan vertikal khas Gasperini, ia menemukan kembali posisi idealnya sebagai striker murni.

Baca Juga:3 Pemain Bergaji Tinggi di AC Milan Terancam Angkat Koper Jika Gagal Lolos ke Liga ChampionsDaftar Pemain Muda Berkualitas yang Jadi Incaran Inter Milan: Dari Marco Palestra Hingga Nico Paz

Hasilnya sangat impresif: 11 gol dari 15 penampilan di Serie A, ditambah dua assist, serta satu gol tambahan di kompetisi Eropa.

Performa tersebut menjadi bukti bahwa Malen hanya membutuhkan kepercayaan dan sistem yang tepat.

Di Roma, ia mendapatkan keduanya. Sebaliknya, Milan yang tengah krisis kreativitas justru kehilangan sosok yang bisa menjadi solusi instan.

Klausul pembelian permanen Malen juga menguntungkan Roma. Jika tim ibu kota Italia itu lolos ke kompetisi Eropa—baik Liga Champions UEFA maupun Liga Europa UEFA—maka statusnya otomatis menjadi permanen.

Syarat jumlah penampilan pun sudah terpenuhi, memperbesar kemungkinan Malen bertahan lebih lama di Olimpico.

Di sisi lain, kebijakan transfer Milan musim ini menuai kritik tajam. Pendekatan berbasis data dan algoritma yang diusung manajemen justru dinilai gagal menjawab kebutuhan nyata tim di lapangan.

0 Komentar