Moncer di AS Roma, Donyell Malen Jadi Penyesalan Terbesar AC Milan Musim Ini

Donyell Malen
Donyell Malen Foto: Tangkapan layar Instagram@officialasroma
0 Komentar

Menurut laporan Calciomercato, tekanan di internal klub meningkat setelah serangkaian hasil buruk, termasuk kekalahan menyakitkan dari Sassuolo.

Performa tim menurun drastis di paruh kedua musim. Setelah mengoleksi 42 poin di paruh pertama, Milan hanya meraih 25 poin dalam 16 laga berikutnya.

Produktivitas gol pun anjlok. Lini serang hanya mampu mencetak 16 gol dalam periode tersebut, memperlihatkan betapa seriusnya masalah di sektor ofensif.

Baca Juga:Arsenal Lolos ke Final Liga Champions, Sihir Simeone di Atletico Tak Lagi BertuahAC Milan Hasilkan Dana Segar Rp1,7 Triliun dari Penjualan Pemain

Dalam dua jendela transfer terakhir, Milan menggelontorkan dana sekitar €170 juta atau setara Rp2,89 triliun.

Meski diimbangi dengan pemasukan dari penjualan pemain, hasil di lapangan jauh dari harapan.

Dari 11 pemain yang didatangkan, hanya Adrien Rabiot dan Luka Modric yang dinilai memenuhi ekspektasi.

Rabiot tampil impresif dengan kontribusi 6 gol dan 5 assist, sementara Modric tetap menunjukkan kualitas meski usia mendekati 41 tahun.

Sebaliknya, sejumlah rekrutan lain tampil inkonsisten. Christopher Nkunku hanya mencetak 5 gol dari 25 laga, sementara Ardon Jashari gagal bersinar akibat cedera.

Bahkan pemain bertahan seperti Pervis Estupinan kerap melakukan kesalahan fatal.

Fullkrug sendiri menjadi simbol kegagalan strategi transfer. Didatangkan untuk menambah ketajaman, ia justru kesulitan beradaptasi dan lebih sering menghangatkan bangku cadangan.

Dalam konteks ini, keberhasilan Malen di Roma terasa seperti tamparan keras bagi Milan. Di saat mereka membutuhkan solusi instan di lini depan, pemain yang tepat justru dilewatkan.

Baca Juga:3 Pemain Bergaji Tinggi di AC Milan Terancam Angkat Koper Jika Gagal Lolos ke Liga ChampionsDaftar Pemain Muda Berkualitas yang Jadi Incaran Inter Milan: Dari Marco Palestra Hingga Nico Paz

Kini, dengan musim yang hampir berakhir dan peluang lolos ke Liga Champions belum pasti, Milan dihadapkan pada evaluasi besar.

Kesalahan dalam membaca kebutuhan tim dan terlalu bergantung pada pendekatan data tanpa mempertimbangkan aspek taktis terbukti menjadi bumerang.

Jika tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin Rossoneri akan kembali mengulang kesalahan yang sama—dan penyesalan seperti kasus Malen akan terus menghantui mereka di masa depan.

0 Komentar