Hasil Jual Rongsok Tak menentu, Sukwan DLH Kadang Hanya Dapat Rp20 Ribu Sehari

Sukarelawan DLH
Ilustrasi
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID–Penghasilan yang tidak menentu membuat para sukarelawan perlu perhatian kesejahteraan dari pemerintah. Terlebih, hasil dari penjualan rongsokan hasil memilah tidak menentu bahkan sangat minim.

Dampak aksi protes para sukwan dalam beberapa hari terakhir penumpukan sampah terjadi di berbagai titik, baik itu TPS liar, TPS resmi dan juga TPS3R. Salah satunya TPS3R di Dadaha di mana DLH harus menurunkan alat berat untuk menangani tumpukan sampah yang semakin menggunung.

Sementara itu, salah seorang sukarelawan DLH Kota Tasikmalaya membenarkan adanya aksi mogok kerja yang dilakukan oleh para petugas. Ia menyebut, aksi tersebut merupakan bentuk protes akibat belum adanya kejelasan terkait pembayaran gaji.

Baca Juga:Butuh Rp345 Juta Perbulan Untuk Gaji Sukwan DLH Kota Tasikmalaya, Bukan Masalah Kalau PAD OptimalInovasi Parkir Dishub Kota Tasikmalaya Terancam Rontok, Ada Wacana Sistem Berlangganan se-Jawa Barat

“Memang kemarin kami sepakat untuk tidak bekerja dulu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, selama ini para sukarelawan tidak memiliki penghasilan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mengandalkan hasil dari mengumpulkan dan menjual barang bekas yang ditemukan saat bekerja.

“Kami sambil bekerja memungut sampah, sekaligus mengumpulkan barang bekas yang bisa dijual,” katanya.

Namun, penghasilan dari aktivitas tersebut sangat tidak menentu. Dalam sehari, ia mengaku hanya bisa memperoleh sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu, tergantung jumlah barang bekas yang berhasil dikumpulkan. Bahkan, tidak jarang mereka pulang tanpa membawa uang sama sekali.

“Sering juga dalam satu hari tidak dapat apa-apa. Pernah cuma bawa pulang Rp5 ribu,” ujarnya.

Penghasilan tersebut pun harus dibagi rata dengan rekan-rekan lainnya, sehingga semakin kecil jumlah yang diterima masing-masing individu. Ia berharap, pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan ini, khususnya terkait kejelasan upah bagi para sukarelawan DLH.

“Kami berharap ada solusi secepatnya. Kami juga punya keluarga yang harus diberi makan dan kebutuhan hidup setiap hari,” pungkasnya.

Baca Juga:Tumpukan Limbah Industri di Mangkubumi Jadi Sorotan! Ketua RT Tegaskan Warga Sebatas Memanfaatkan RongsokanLokasi Menentukan Konsekuensi

Kondisi itu paling terasa di sekitar area Dadaha, terutama di dekat Kolam Renang Tirta Sukapura yang berdekatan dengan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat.

Sementara itu kondisi tumpukan sampah yang semakin menggunung di berbagai titik menimbulkan ketidaknyamanan warga. Seperti diakui Muhidin, warga di sekitar Dadaha mengaku telah beberapa hari terakhir mencium bau tidak sedap yang berasal dari TPS3R tersebut.

0 Komentar