RADARTASIK.ID – Pendekatan berbasis data algoritma yang diusung AC Milan dalam bursa transfer musim ini menuai sorotan tajam.
Alih-alih memperkuat skuad, strategi tersebut justru dinilai gagal total setelah mayoritas rekrutan anyar tidak mampu memenuhi ekspektasi.
Media Italia Calciomercato melaporkan bahwa suasana di internal klub kini berada dalam tekanan tinggi, terutama setelah kekalahan menyakitkan dari Sassuolo.
Baca Juga:Intip Peluang AC Milan, Juventus, AS Roma dan Como ke Liga Champions: Lazio Batu Sandungan GiallorossiInter Milan Makin Italia: Bidik Kiper Lokal yang Sedang Merantau ke Inggris
Tak ada satu pun figur yang benar-benar aman dari kritik, seiring performa tim yang merosot drastis di paruh kedua musim.
Jika pada paruh pertama Milan mampu mengoleksi 42 poin, performa mereka anjlok menjadi hanya 25 poin dalam 16 laga berikutnya.
Lini serang mandek dengan hanya 16 gol, sementara lima kekalahan sejak Januari mempertegas krisis yang melanda Rossoneri.
Salah satu faktor utama yang disorot adalah kebijakan transfer.
Dalam dua jendela transfer terakhir, Milan mendatangkan 11 pemain baru dengan total investasi sekitar €170 juta atau setara Rp2,89 triliun (kurs €1 = Rp17.000).
Angka tersebut sebenarnya diimbangi dengan pemasukan serupa dari penjualan pemain, tetapi secara kualitas, hasilnya jauh dari memuaskan.
Dari sekian banyak rekrutan, hanya dua nama yang dianggap berhasil: Adrien Rabiot dan Luka Modrić. Selebihnya, sembilan pemain lainnya tampil inkonsisten, bahkan mengecewakan.
Di sektor penjaga gawang, Pietro Terracciano yang datang gratis dari Fiorentina hanya tampil dua kali, meski mencatat clean sheet di kedua laga tersebut.
Baca Juga:Walter Zenga: Chivu Perpaduan Mourinho, Ranieri dan SpallettiMarotta Pastikan Inter Makin Italia Musim Depan: Kami Cari Pemain Lokal
Sementara itu, Koni de Winter yang dibeli dari Genoa seharga €20 juta (Rp340 miliar) menunjukkan performa naik turun dalam 24 penampilan.
Zachary Athekame yang ditebus €10 juta (Rp170 miliar) sempat menunjukkan potensi dengan satu gol dan dua assist, tetapi minim pengalaman membuat kontribusinya belum maksimal.
Lebih buruk lagi adalah performa Pervis Estupiñán. Dibeli €17 juta (Rp289 miliar), ia kerap melakukan kesalahan fatal di lini belakang dan gagal menggantikan peran Theo Hernandez.
Eksperimen lain juga tidak berjalan mulus. David Odogu, pemain muda kelahiran 2006, nyaris tidak memberikan dampak berarti.
Begitu pula dengan Samuele Ricci yang ditebus €23 juta (Rp391 miliar), namun hanya menjadi pelapis dengan kontribusi minim.
