“Akan tetapi, menurut laporan faktor tak bisa masuk belajar selama seminggu karena diduga bullying bukan di lembaga MTs, akan tetapi di keluarga dan lingkungan. Itu pun sudah terverifikasi pamannya yang datang ke Kemenag Ciamis,” ujarnya.
Ia menjelaskan, secara umum korban tetap bersekolah saat kondisi kesehatannya memungkinkan. Namun, korban mengalami gangguan kesehatan yang turut memengaruhi aktivitas belajar.
“Akan tetapi selama siswi ini kalau sehat masuk belajar. Akan tetapi siswi tersebut mengalami susah makan, yang dimakan mie instan sehingga secara riwayat kesehatan kurang, sekarang sedang ditangani secara medis untuk memulihkan kesehatannya,” ujarnya.
Baca Juga:Kisruh di Desa Cayur Cikatomas Tasikmalaya, Agustiana: Lebih Baik SPP yang Disalahkan Ketimbang UlamaTingkatkan Kapasitas Instruktur Senam, Bidang Olahraga Disparpora Kabupaten Tasikmalaya Gelar Pelatihan
“Artinya kurang tepat, ketika siswi ini terbaring tidak sekolah dihubungkan dengan dugaan bullying, karena memang karena terganggu kesehatannya,” katanya.
“Kemudian, lebih kepada bercanda, karena korban dan temannya ini berangkat dan pulangnya bersama-sama, tidak ada masalah,” tambahnya.
Meski demikian, Kemenag tetap mengambil langkah lanjutan dengan meminta pengawas MTs melakukan pemantauan di sekolah. Peran guru Bimbingan Penyuluhan juga dioptimalkan untuk memastikan kondisi psikologis korban tetap terpantau.
“Lalu, melakukan komunikasi dengan DP2KBP3A Ciamis, agar siswi tersebut bisa mendapatkan penanganan dan pendampingan psikolog dan psikiater, dan sudah dilakukan juga,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, Kemenag menegaskan komitmennya mendorong seluruh lembaga pendidikan di bawah naungannya menjadi madrasah ramah anak.
“Kita sudah komitmen supaya lembaga pendidikan di lingkungan Kemenag sudah melakukan sosialisasi madrasah ramah anak dan sehat, baik melalui organisasi kepala madrasah dan guru madrasah bahkan rapat koordinasi,” katanya.
“Supaya, sebagai pencegahan kekerasan terhadap anak dan jangan cuek ketika ada kejadian di luar batas siswanya,” pungkasnya. (riz)
