Ia juga menyoroti konsep penyelenggaraan yang tidak terpusat di stadion besar, melainkan memanfaatkan lapangan terbuka milik masyarakat, seperti Lapang Cimerah.
Menurutnya, pendekatan ini mendorong keterlibatan masyarakat sekaligus memberi dampak sosial dan ekonomi.
Bisa dilihat langsung di lapangan, bukan hanya pertandingan yang berlangsung, tetapi juga ada UMKM yang tumbuh, masyarakat yang berkumpul.
Baca Juga:Kisruh di Desa Cayur Cikatomas Tasikmalaya, Agustiana: Lebih Baik SPP yang Disalahkan Ketimbang UlamaTingkatkan Kapasitas Instruktur Senam, Bidang Olahraga Disparpora Kabupaten Tasikmalaya Gelar Pelatihan
Kemudian, keterlibatan Karang Taruna serta pemuda desa. Tentunya, ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Ke depan, kompetisi akan memasuki tahap regional yang dibagi ke dalam lima wilayah, yakni Priangan Timur, Ciawimajakuning, Bogor Raya, Bandung Raya, dan Purwasukasi. Setiap wilayah akan menjaring tim terbaik untuk melaju ke tingkat provinsi dalam ajang Piala Gubernur.
“Tim terbaik akan mewakili Jawa Barat di tingkat nasional dalam kompetisi bertajuk Piala Presiden yang diselenggarakan oleh PSSI Pusat,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua PSSI Kabupaten Tasikmalaya, Juandi, menyebut pelaksanaan Liga Jabar Istimewa sebagai langkah strategis dalam membangun fondasi sepak bola daerah sejak usia dini.
“Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam membangun fondasi sepak bola daerah sejak usia dini,” ucapnya.
Ia berharap kompetisi ini mampu melahirkan pemain-pemain unggul yang dapat berprestasi di berbagai level.
Menurut Juandi, pembinaan tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga penanaman nilai sportivitas.
Baca Juga:Serap Aspirasi Warga Tasikmalaya, Anggota DPRD Jabar Budi Mahmud Saputra Siap Kawal Pembangunan DesaAnggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Karom Apresiasi Respons Pemda Soal Skema Gaji PPPK Paruh Waktu
“Tidak hanya berprestasi, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai fair play dan kebersamaan,” tandasnya. (obi)
