Hobi Rajut Jadi Cuan, Karya Perempuan Tasikmalaya Tembus Pasar Italia

Karya Perempuan Tasikmalaya
Ketua Komunitas Merajut Tasikmalaya (KMT) E S Emi Rahayu (tengah) bersama anggota KMT berkumpul merajut dan membahas program komunitas di salah satu cafe di Kota Tasikmalaya, Selasa, 9 Juni 2026. (Fatkhur Rizqi/Radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dari gulungan benang polyester, lahir peluang ekonomi yang tidak lagi bisa dipandang sebelah mata.

Di tangan perempuan-perempuan kreatif Tasikmalaya, hobi merajut bukan hanya menjadi aktivitas pengisi waktu, tetapi juga berkembang menjadi sumber penghasilan, ruang pemberdayaan, hingga jalan menuju pasar global.

Produk rajut seperti amigurumi, boneka, gantungan kunci, tas, dompet, pouch, vest, hingga cardigan kini memiliki nilai jual yang menjanjikan.

Baca Juga:Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Skor, Kondisi Tim, dan Susunan Pemain21 Klub Motor Honda Kumpul di Kuningan, Bahas Masa Depan Paguyuban hingga Identitas Resmi

Harganya pun beragam, mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung bahan, ukuran, tingkat kerumitan, detail, serta waktu pengerjaan.

Salah satu perajut asal Tasikmalaya, Rifatul Mukaromah, mulai kembali menekuni dunia rajut sejak 2018.

Ketertarikannya sebenarnya sudah muncul sejak sekolah, ketika ia pernah mendapatkan pelajaran merajut.

Namun, keterampilan itu kembali diasah setelah ia mengikuti pelatihan rajut selama dua bulan di Sanggar Kegiatan Belajar atau SKB.

Dalam pelatihan tersebut, Rifa mempelajari berbagai teknik dasar hingga pembuatan produk seperti tas dan boneka.

Dari sana, ia kemudian mengenal Komunitas Merajut Tasikmalaya (KMT) yang menjadi ruang bagi para perajut untuk belajar, berkarya, dan memperluas jaringan.

Rifa menyampaikan bahwa sejak mengikuti pelatihan tersebut, kegiatan merajut yang awalnya hanya dianggap sebagai hobi mulai memberi peluang penghasilan.

Baca Juga:8 Fakta Mengejutkan Kim Jae Won yang Belum Diketahui Penggemar Drama KoreaPemerintah Batalkan Gross Split Mineral dan Batu Bara, Saham Tambang Tahan Banting Saat IHSG Turun

“Kini sudah menjadi hobi yang bisa menghasilkan cuan,” katanya saat diwawancara Radar, Selasa, 9 Juni 2026.

Rifa kemudian bergabung dengan KMT karena melihat komunitas itu sebagai tempat yang tepat untuk mengembangkan keterampilan sekaligus bertemu dengan sesama perajin.

Di komunitas tersebut, Rifa semakin terbiasa mengolah helai benang menggunakan hakpen.

Produk awal yang banyak ia buat adalah tas dan gantungan kunci.

Dalam sehari, ia bisa menghasilkan sekitar lima gantungan kunci sederhana.

Namun, untuk produk yang membutuhkan detail lebih rumit, pengerjaannya bisa memakan waktu lebih lama dan jumlah produksinya lebih terbatas.

Menurut Rifa, proses merajut sangat bergantung pada suasana hati, tren pasar, serta tingkat kerumitan produk.

Karena itu, setiap karya rajut memiliki karakter yang berbeda dan tidak sepenuhnya bisa disamakan seperti produk buatan mesin.

0 Komentar