Saat ini, KMT telah memasuki tahun ke-9 dan memiliki sekitar 250 anggota yang tersebar di wilayah Priangan Timur.
Komunitas ini juga rutin menggelar pelatihan, workshop singkat, hingga program edukasi daring agar semakin banyak perempuan bisa belajar merajut, termasuk peserta dari luar daerah.
Keunggulan produk KMT terletak pada karakter handmade yang memberi nilai personal dan eksklusif.
Baca Juga:Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Skor, Kondisi Tim, dan Susunan Pemain21 Klub Motor Honda Kumpul di Kuningan, Bahas Masa Depan Paguyuban hingga Identitas Resmi
Selain itu, komunitas ini juga mengusung prinsip zero waste untuk meminimalkan limbah produksi.
Dari sisi akses pasar, KMT aktif mengikuti berbagai ajang nasional seperti INACRAFT dan BRILiaN Preneur, serta menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak.
Melalui pendampingan kualitas yang ketat, karya rajut perempuan Tasikmalaya kini tidak hanya diminati pasar lokal, tetapi juga berhasil menembus pasar internasional.
Beberapa produk karya perempuan Tasikmalaya seperti cardigan dan boneka Kokeshi bahkan telah diekspor ke Italia.
Yayu menjelaskan bahwa upaya memperluas pasar rajut KMT kini telah menjangkau Eropa.
Meski demikian, komunitas tetap mempertahankan identitas lokal melalui produk yang mengangkat budaya Tasikmalaya dan Indonesia, seperti rajut perca batik Tasikmalaya serta payung rajut geulis yang pernah tampil dalam ajang BRILiaN Preneur 2019.
KMT juga pernah menggelar pelatihan keliling Indonesia pada 2023 dengan menggandeng Kementerian Perindustrian.
Baca Juga:8 Fakta Mengejutkan Kim Jae Won yang Belum Diketahui Penggemar Drama KoreaPemerintah Batalkan Gross Split Mineral dan Batu Bara, Saham Tambang Tahan Banting Saat IHSG Turun
Selain pelatihan langsung, komunitas ini memiliki program short course dan Workshop Online atau WSO yang memungkinkan peserta dari luar kota tetap dapat belajar secara daring.
Perjalanan KMT tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, salah satunya Rumah BUMN Tasikmalaya dan BRI.
Melalui pembinaan tersebut, anggota komunitas mendapatkan pendampingan agar produk mereka semakin siap bersaing, termasuk untuk menembus pasar ekspor.
Selain pelatihan keterampilan seperti rajut bros bunga, sulam manik-manik, dan sulam kain perca, dukungan permodalan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha anggota.
Melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat atau KUR BRI, para pelaku UMKM mendapatkan akses pembiayaan yang lebih sehat untuk mengembangkan usaha.
Pemimpin Cabang BRI Kantor Cabang Tasikmalaya, Hoki Agusta Rino Atmaja, turut mengapresiasi kiprah KMT dalam mendorong inklusi keuangan bagi perempuan.
“Keberhasilan mereka mencapai pasar Italia adalah bukti nyata bahwa perempuan pelaku UMKM kita sangat kompetitif,” ujarnya.
