“Posisi kami dilematis. Kami bukan tidak memperhatikan mereka, tapi memang terbentur aturan. Dalam nomenklatur anggaran, tidak bisa membayar para guru honorer,” bebernya.
Di sisi lain, realitas pahit dirasakan langsung para honorer. Zulfa Azkia, guru di SDN Bungursari, harus memikul beban mengajar berbagai mata pelajaran dengan honor sekitar Rp300 ribu per bulan.
Sebuah angka yang, jika jujur, lebih mirip simbol pengabdian daripada upah profesional.
Baca Juga:33 Prajurit Kodim 0612 Tasikmalaya Butuh Tindak Lanjut Medis: Hasil Cek KesehatanSekolah Rakyat di Kota Tasikmalaya Tersandera Lahan, Pemkot Tunggu Dokumen Final
“Di sini saya pegang semua mata pelajaran umum. Tapi untuk honornya sekitar Rp300 ribu per bulan,” katanya.
Untuk bertahan, ia harus menambal penghasilan dari pekerjaan lain—mengajar di bimbingan belajar hingga menjadi asisten kursus bahasa Inggris.
Sebuah potret yang tak asing, namun tetap menyisakan ironi. Awalnya, gaji sempat cair lancar. Namun belakangan, aliran itu tersendat tanpa kepastian.
“Pas awal masuk sih lancar, tapi untuk akhir-akhir ini enggak, sudah dua bulan. Karena ada kendala juga dalam keuangannya,” ungkapnya.
Di tengah situasi ini, satu hal menjadi jelas: pendidikan tetap berjalan berkat dedikasi, bukan karena sistem yang sepenuhnya siap.
Dan seperti biasa, yang paling sabar justru mereka yang paling lama menunggu. (ayu sabrina barokah)
