Karim berjalan kaki 3 hingga 5 kilometer setiap hari, dua kali jualan: pagi dan siang hingga malam. Gerobak sederhana menjadi kendaraan mimpi. Di dalamnya, bukan hanya bubur hangat, tapi juga harapan yang terus diaduk.
Jika ada yang bertanya rahasia mereka, jawabannya mungkin terlalu sederhana untuk dipercaya: konsisten.
Dari cilok hingga bubur, dari kontrakan hingga rumah sendiri, dari Rp50 ribu hingga jutaan rupiah terkumpul, semua berjalan tanpa jeda. Bahkan ketika kebutuhan pokok naik, setoran mimpi tetap berjalan.
Baca Juga:Bursa Calon Sudah Muncul, Musda Golkar Kota Tasikmalaya Tunggu Kepengurusan Jabar RampungStadion Wiradadaha Kota Tasikmalaya Kian Terbengkalai, Janji Rehabilitasi Tahun ini Jadi Asap
Uang muka haji Rp50 juta mereka bayarkan dengan keyakinan yang barangkali tak masuk logika sebagian orang. Disusul cicilan Rp15 juta, lalu Rp10 juta di tahun 2018. Hingga akhirnya, total pelunasan Rp62 juta rampung.
Tak ada drama besar. Hanya cerita panjang yang ditulis dengan sabar.
Bagi Edoh, perjalanan ini bukan sekadar soal uang, tapi soal panggilan. Ia mengenang masa lalu saat merantau dari Bekasi, hidup berpindah, membesarkan anak hingga menikah, dan tetap menyimpan satu mimpi yang sama.
“Abdi hoyong kawas batur naik haji… ayeuna tos ka kobul ku Gusti,” tuturnya.
Kini, di usia yang tak lagi muda, ia tak meminta banyak. Hanya kesehatan selama perjalanan, umur yang cukup untuk kembali ke tanah air, dan harapan sederhana: semoga kisahnya jadi pengingat bahwa mimpi tak selalu butuh percepatan—kadang cukup keteguhan.
Di tengah dunia yang serba instan, kisah Karim dan Edoh seperti satire halus: bahwa yang pelan bukan berarti tertinggal. Justru, di langkah yang konsisten, mimpi menemukan jalannya sendiri. (rezza rizaldi)
