Polisi telah menetapkan empat tersangka dengan peran berbeda—mulai dari menjemput korban hingga melakukan kekerasan.
Fenomena ini, menurut polisi, menunjukkan pola aksi kolektif. Bukan sekadar ledakan emosi individu, melainkan “kerja tim” spontan yang tetap berujung pidana.
Meski demikian, aparat memastikan tidak ada aktor intelektual di balik peristiwa tersebut.
Baca Juga:Turnamen Bulutangkis Senior Internasional Membludak, 3.000 Atlet Serbu Hundred Hoo Haa Cup 2026Api Membesar dari Dapur Warung Hanguskan Rumah di Dadaha Kota Tasikmalaya
“Ini spontanitas karena emosi melihat korban menangis,” ujar Herman.
Penyidikan masih terbuka. Polisi memberi sinyal, peluang munculnya pelaku lain tetap ada jika bukti baru ditemukan.
Di Kota Tasikmalaya, satu hal mulai terang: peran boleh berbeda, tapi hukum tak mengenal kompromi—semua yang terlibat tetap akan dimintai pertanggungjawaban. (rezza rizaldi)
