TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya resmi ditutup, Minggu (19/4/2026).
Kegiatan ini menegaskan satu hal: mencetak pembina bukan urusan seremoni, tapi soal membangun karakter.
Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Tasikmalaya, H Muhammad Yusuf, menekankan KMD adalah pintu awal menuju profesionalitas pembina.
Baca Juga:Memantik Tafsir!Spanduk “Tuyul” di Kebon Kembang Kota Tasikmalaya Dicopot, Keresahan Warga Mereda
Ia mengingatkan, Pramuka tak butuh pembina yang sekadar hadir, tapi yang mampu menghidupkan metode kepramukaan secara kreatif dan relevan.
“Ini bukan rutinitas tahunan. Ini proses pendidikan karakter. Dari sini lahir pembina yang bisa benar-benar membina,” ujarnya.
Ia menambahkan, tanggung jawab pembina bukan ringan. Mereka menjadi garda depan membentuk generasi muda yang beriman, berakhlak, sekaligus punya kepedulian sosial dan semangat kebangsaan.
Karena itu, peserta diminta tidak berhenti belajar setelah KMD usai—sebab di lapangan, tantangan jauh lebih kompleks daripada ruang pelatihan.
Berdasarkan laporan pimpinan kursus, KMD digelar selama enam hari, terbagi dalam dua gelombang waktu, 10–12 dan 17–19 April 2026. Kegiatan memadukan teori dan praktik di lingkungan kampus.
Hasilnya, dari ratusan peserta, sebanyak 197 orang dinyatakan lulus, satu orang lulus bersyarat, dan satu lainnya belum memenuhi kriteria kelulusan.
Meski sempat diganggu cuaca, jalannya pelatihan tetap berlangsung lancar.
Waka Bidang Huminfo Kwarcab Kota Tasikmalaya, Eri Kustiaman, menyebut peningkatan kapasitas peserta terlihat jelas.
Baca Juga:Sentuhan di Balik Papan: Versi Korban Perempuan Dugaan Asusila Berujung Penculikan di Kota TasikmalayaKasus Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Diculik karena Dugaan Asusila Dilaporkan ke Polisi, ini Pengakuan Saksi
Nilai tes awal dan akhir di tiap kelas menunjukkan lonjakan signifikan—indikasi bahwa pelatihan tidak sekadar formalitas.
“Peserta terbaik di tiap kelas juga kami beri penghargaan. Total ada lima orang per kelas yang mendapat apresiasi,” katanya.
Suasana kegiatan berlangsung dinamis. Antusiasme peserta menjadi catatan tersendiri—bahkan disebut sebagai salah satu KMD terbaik dalam beberapa waktu terakhir.
Di tengah rutinitas pelatihan, terselip semangat yang tak selalu mudah ditemukan: kesungguhan untuk benar-benar siap membina.
KMD tahun ini mengusung motto “Ikhlas Bakti Bina Bangsa Berbudi Bawalaksana”.
Sebuah frasa yang terdengar klasik, namun tetap relevan—terutama saat pembinaan generasi muda kerap terjebak antara formalitas dan esensi.
