TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater 28 Universitas Siliwangi kembali menggelar program Pentas Keliling ke sejumlah kota di Indonesia. Pada tahun ini, mereka membawakan naskah berjudul Sobrat, karya Arthur S. Nalan yang sarat kritik sosial.
Sutradara Pery Pebrianto menjelaskan, pemilihan naskah tersebut dilatarbelakangi oleh relevansinya dengan kondisi yang terjadi saat ini, khususnya terkait maraknya praktik penambangan liar yang berdampak pada kerusakan lingkungan.
“Kenapa saya mengangkat karena di Indonesia ini, ga usah jauh jauh di Indonesia di tempat tempat sekitar kita masih banyak penambang liar, penambang penambang emas yang merusak ekosistem pertumbuhan ladang ladang segala macam tanpa adanya tanggung jawab yang pasti. Ya temanya tentang keserakahan, kesombongan,” jelasnya.
Baca Juga:Tanggung Jawab Moral di Balik Lahirnya Seorang Pemimpin!Muscab PPP Kota Tasikmalaya yang Mengubah Tradisi, dari Aklamasi ke Argumentasi!
Melalui pementasan ini, Teater 28 ingin menghadirkan refleksi bagi masyarakat sekaligus mengajak penonton untuk lebih mencintai lingkungan sekitar. Pesan yang dibawa diharapkan tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga mendorong kesadaran.
Kota Tasikmalaya menjadi pembuka rangkaian Pentas Keliling 2026. Pementasan digelar di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya selama tiga hari, mulai 17 hingga 19 April 2026.
Selanjutnya, Pentas Keliling akan berlanjut ke sejumlah kota lain, yakni Garut pada 24 April 2026, Semarang pada 26 April 2026, dan Madura pada 29 April 2026.
Pery menyebut Pentas Keliling tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga wadah untuk menyalurkan kreativitas, memperluas apresiasi seni, sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas budaya.
Ia berharap, pementasan Sobrat di kota-kota berikutnya dapat berjalan lebih baik dibandingkan dengan pementasan di Kota Tasikmalaya, baik dari sisi teknis maupun penyampaian pesan kepada penonton. (Fitriah Widayanti)
