Spanduk “Tuyul” di Kebon Kembang Kota Tasikmalaya Dicopot, Keresahan Warga Mereda

spanduk tuyul
Spanduk Tuyul yang sempat dipasang di Kampung Kebon Kembang, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya telah dicabut, Senin (20/4/2026) sore. Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Spanduk larangan “tuyul” yang sempat mencuri perhatian publik akhirnya diturunkan.

Bukan karena misterinya terpecahkan, melainkan karena realitas sosial menuntut suasana tetap kondusif.

Spanduk bernada satir itu sebelumnya terpasang di pintu masuk Kampung Kebon Kembang, RT 05 RW 05, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Baca Juga:Sentuhan di Balik Papan: Versi Korban Perempuan Dugaan Asusila Berujung Penculikan di Kota TasikmalayaKasus Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Diculik karena Dugaan Asusila Dilaporkan ke Polisi, ini Pengakuan Saksi

Isinya tak biasa—peringatan bagi “pemilik tuyul” agar menghentikan aksi pencurian gaib, lengkap dengan sentilan moral yang terasa setengah serius, setengah menyindir.

Namun, Senin (20/4/2026), spanduk tersebut resmi dicopot. Keputusan ini diambil melalui kesepakatan warga bersama unsur pemerintah setempat, termasuk dorongan dari pihak Kecamatan Cipedes.

Istri Ketua RT setempat, Teni Tasliani (52), mengungkapkan pencopotan dilakukan setelah adanya komunikasi dari pihak kelurahan.

“Semalam ada rapat, pak lurah menelepon minta spanduk dibuka. Hari ini sudah tidak terpasang,” ujarnya.

Ia menegaskan, langkah ini tidak menimbulkan gejolak berarti di tengah warga. Meski sempat ada pro dan kontra, keputusan diambil sebagai jalan tengah.

“Warga tidak masalah. Kami hanya mengakomodasi keinginan masyarakat. Alhamdulillah sekarang juga sudah tidak ada laporan kehilangan lagi,” tambahnya.

Camat Cipedes, Cecep Ridwan, membenarkan pihaknya turun tangan untuk mencegah potensi konflik sosial yang lebih luas.

Baca Juga:Tiga Periode Tanpa Banyak Suara!BBM Non Subsidi Naik, Diky Candra Pilih “Parkir” Pajero Dinas Wakil Wali Kota Tasikmalaya

“Kami bujuk warga agar spanduk diturunkan supaya tidak menimbulkan keresahan baru. Alhamdulillah mereka bersedia,” tuturnya.

Ia juga menyarankan pendekatan yang lebih rasional, salah satunya dengan mendorong transaksi non-tunai.

“Kami usulkan cashless. Kan kalau tuyul, tidak bisa mengambil uang digital,” ujarnya, setengah berkelakar.

Sebelumnya, keresahan warga bukan tanpa sebab. Sedikitnya enam laporan kehilangan uang secara misterius mencuat.

Polanya seragam—uang berkurang satu lembar, tanpa bekas, tanpa jejak, tanpa logika yang mudah dicerna.

Santi Casliani (36), salah satu warga, mengaku kejadian itu sudah berulang kali dialaminya. Uang yang disimpan rapi dalam amplop mendadak berkurang saat diperiksa ulang.

“Sudah dihitung, misalnya satu juta. Pas dibuka lagi, hilang satu lembar. Bukan sekali dua kali,” tuturnya.

0 Komentar