Ia terbiasa dengan ritme birokrasi yang menuntut ketelitian dan kecepatan membaca situasi—dua hal yang tak bisa ditawar dalam posisi sekpri.
Di luar pekerjaan dan organisasi, hidupnya berjalan tanpa banyak ornamen. Membaca, berdiskusi, dan tetap aktif di lingkar organisasi menjadi rutinitas. Tak ada narasi besar yang ia bangun, selain satu hal: proses.
“Saya jalanin saja. Yang penting konsisten, ada prosesnya, dan bisa bermanfaat,” ujarnya.
Baca Juga:Spanduk “Tuyul” di Kebon Kembang Kota Tasikmalaya Dicopot, Keresahan Warga MeredaSentuhan di Balik Papan: Versi Korban Perempuan Dugaan Asusila Berujung Penculikan di Kota Tasikmalaya
Di tengah hiruk-pikuk politik lokal Tasikmalaya yang kerap riuh di depan layar, sosok seperti Miqdar hadir sebagai pengingat: tidak semua kerja butuh panggung.
Ada yang cukup memastikan lampu tetap menyala—meski namanya tak pernah disebut saat tirai ditutup. (ayu sabrina barokah)
