TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Upaya menekan angka stunting di Kota Tasikmalaya tak selalu hadir dalam bentuk program besar dan jargon panjang.
Di Bantarsari RW 16, Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes, langkah kecil justru dipilih: masuk lewat dapur, menyentuh kebiasaan makan keluarga.
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Masyarakat melalui program FKIP EDU Unsil menggandeng DPPKBPPPA Kota Tasikmalaya menghadirkan program SEHATI (Sehatkan Anak Melalui Edukasi Gizi dan Inovasi Pangan).
Baca Juga:Spanduk “Tuyul” di Kebon Kembang Kota Tasikmalaya Dicopot, Keresahan Warga MeredaSentuhan di Balik Papan: Versi Korban Perempuan Dugaan Asusila Berujung Penculikan di Kota Tasikmalaya
Sasaran utamanya jelas—ibu-ibu dan kader, pihak yang setiap hari bersentuhan langsung dengan urusan perut anak.
Sebanyak 25 peserta dari PKK dan kader posyandu berkumpul di Balai Riung Kampung KB.
Mereka tak hanya dijejali teori, tapi juga diajak praktik. Sebab, edukasi yang berhenti di catatan seringkali kalah oleh kebiasaan di dapur.
Ketua tim, Priscilla Windy Aurelia, menegaskan fokus kegiatan ada pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)—fase krusial yang kerap disebut-sebut, tapi belum tentu dipahami utuh di lapangan.
Materi dikemas dalam penyuluhan gizi sekaligus demonstrasi pengolahan camilan sehat.
Di titik ini, mahasiswa mencoba “menipu” lidah anak-anak dengan cara yang lebih halus: menghadirkan PuCoy, puding berbahan pakcoy.
Sebuah inovasi sederhana—yang mungkin terdengar sepele—namun menyasar persoalan klasik, yakni anak yang alergi sayur tapi akrab dengan jajanan manis.
Kepala Bidang PPPA Kota Tasikmalaya, Hj Lusi Rosdianti, melihat pendekatan ini lebih membumi.
Baca Juga:Kasus Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Diculik karena Dugaan Asusila Dilaporkan ke Polisi, ini Pengakuan SaksiTiga Periode Tanpa Banyak Suara!
Menurutnya, edukasi gizi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai, terutama dalam mendorong kreativitas ibu dalam mengolah makanan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk pencegahan stunting, semoga bisa berkelanjutan,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Hal senada disampaikan Lurah Nagarasari, Feri Heriawan. Ia menilai inovasi pangan berbasis potensi lokal bisa menjadi jalan tengah menghadapi pola makan anak yang selektif.
“Anak yang tidak suka sayur bisa disiasati dengan olahan yang lebih menarik dan tetap sehat,” katanya.
Dari sisi peserta, metode praktik menjadi pembeda. Ibu Sri, salah satu kader PKK, mengaku kegiatan ini memberi wawasan baru yang bisa langsung diterapkan di posyandu.
