RADARTASIK.ID— Viral karena memulung di usia belia, kisah bocah viral Fikri menemukan harapan di Sekolah Rakyat. Kini dia mulai menjalani hidup baru dari jalanan ke ruang kelas.
Kisah Fikri mencuat ke publik setelah videonya saat memulung di jalanan menjadi viral.
Dari sanalah perhatian datang, dan negara akhirnya hadir membuka jalan baru bagi kehidupannya.
Baca Juga:Derbi Suramadu Memanas, Madura United Waspadai Kebangkitan Persebaya Usai Kalah dari Persija JakartaPersebaya vs Madura United: Derbi Suramadu di Tengah Badai Cedera Persebaya, Ini Taktik Bernardo Tavares Â
Kini, Fikri menapaki fase berbeda sebagai bagian dari Sekolah Rakyat Terpadu 4 Sumedang.
Latar belakang keluarga yang tak utuh menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Fikri adalah anak kedua dari pasangan Sri dan M. Ulmi yang telah berpisah.
Ia dan adiknya tinggal bersama ayah di Jakarta, sementara saudara lainnya tersebar di beberapa daerah mengikuti kondisi masing-masing orang tua.
Dalam situasi yang serba terbatas, Fikri sempat menggantungkan hidup dengan memulung untuk membantu sang nenek memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi itu semakin sulit ketika sosok yang merawatnya harus berurusan dengan hukum, membuat beban hidup anak sekecil itu kian berat.
Namun, titik balik datang dari sesuatu yang tak terduga.
Video yang memperlihatkan kesehariannya justru membuka pintu perubahan.
Aparat kepolisian kemudian memfasilitasi pertemuannya dengan sang ibu di Sumedang.
Meski demikian, kondisi keluarga yang belum memungkinkan membuat Fikri akhirnya diarahkan untuk mendapatkan pendidikan dan pengasuhan di Sekolah Rakyat.
Baca Juga:Andrew Jung Kembali, Persib Jaga Momentum di Laga Lawan Dewa United yang Tanpa PenontonMenjaga Daya Beli, Pemerintah Tahan Harga BBM Bersubsidi hingga Akhir 2026, Dipastikan Tidak Naik Â
Sejak akhir Maret 2026, Fikri resmi menjadi bagian dari lingkungan baru yang memberinya lebih dari sekadar pendidikan.
Awalnya, proses adaptasi tidak berjalan mudah.
Ia harus berhadapan dengan suasana asing dan orang-orang yang belum dikenalnya.
Namun, pendekatan penuh kesabaran dari para pengasuh dan guru perlahan meluluhkan kecanggungan tersebut.
Perubahan mulai terlihat. Wajah murung yang semula lekat kini berganti dengan senyum yang lebih sering merekah.
Kehangatan lingkungan membuatnya merasakan hal-hal sederhana yang sebelumnya tak ia miliki: kebersamaan, perhatian, dan rasa aman.
Dalam kesehariannya, Fikri kini menikmati aktivitas layaknya anak-anak lain.
Ia bermain, belajar, dan bercanda bersama teman-temannya.
Ia juga merasakan kehadiran figur pengganti keluarga melalui para wali asuh dan tenaga pendidik yang mendampinginya.
