Wabup yang Jarang Diam!

Asep Sopari Al Ayubi
Asep Sopari Al Ayubi, Wakil Bupati Tasikmalaya
0 Komentar

“Sekarang tugas saya menjalankan amanah bupati,” katanya. “Sekaligus mengimprovisasi persoalan masyarakat.”

Kata “improvisasi” itu menarik.

Karena di pemerintahan yang anggarannya sering terasa sempit, improvisasi bukan pilihan—melainkan kebutuhan. Ia menyebut beberapa hal yang menjadi tekanannya: perubahan mindset masyarakat. Tentang kesehatan. Pendidikan. Ekonomi. Hal-hal yang terdengar klasik. Tapi sulit dilakukan tanpa konsistensi.

Saya mengamati wajahnya. Masih wajah lama yang saya kenal. Tapi dengan ritme bicara yang berbeda. Lebih pelan. Lebih terukur. Saya jadi teringat masa lalunya. Ia pernah memimpin organisasi mahasiswa. Ketua HMI Cabang Tasikmalaya tahun 1998–1999. Tahun-tahun penuh gejolak. Tahun yang membentuk banyak pemimpin lapangan.

Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Masih Bungkam, Isu Cashback Pinjaman Daerah Belum TerjawabMohon Izin, Pak Wali Kota Tasikmalaya Daftar Itu Mulai Beredar!

Ia juga pernah menjadi Presiden Mahasiswa di Universitas Siliwangi. Lalu melangkah ke dunia politik. Menjadi Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya periode 2019–2024. Kini menjadi Wakil Bupati periode 2024–2029. Riwayatnya panjang. Tapi malam itu ia tidak sedang membanggakan riwayat. Ia justru sibuk menjelaskan masa depan.

Saya bertanya satu hal yang sederhana. “Dengan anggaran terbatas, apa yang masih bisa dilakukan?” Ia tersenyum “Inovasi,” jawabnya singkat.

Lalu ia bercerita tentang bagaimana ide-ide kecil sering datang dari masyarakat. Dari diskusi. Dari obrolan santai seperti malam itu.

Ia tidak menutup diri. Justru membuka ruang seluas mungkin untuk masukan. Saya jarang melihat wakil kepala daerah yang nyaman berdiskusi di ruang santai seperti ini. Tanpa protokol panjang. Tanpa formalitas berlapis. Seperti orang yang sadar, jabatan itu sementara. Tapi kepercayaan masyarakat harus dijaga lama.

Ada satu hal yang paling menarik dari malam itu. Ia tidak bicara tentang dirinya sebagai pejabat. Ia bicara tentang dirinya sebagai pelayan.

Tentang bagaimana mengubah pola pikir masyarakat. Tentang bagaimana menjaga keseimbangan dengan bupati. Tentang bagaimana tetap kreatif meski anggaran terbatas.

Itu tidak mudah. Apalagi di sebuah kabupaten yang luas. Dengan karakter masyarakat yang beragam. Dengan kebutuhan yang tidak pernah selesai.

Baca Juga:Adegan Drama Pemkot Tasik!Bupati "Pinjaman"

Saya pulang malam itu dengan satu kesan kuat: Asep Sopari Al Ayubi bukan lagi politisi yang sekadar bergerak karena momentum. Ia sedang membentuk dirinya menjadi administrator yang paham medan.

0 Komentar